Trilogis.id (Boalemo) – Menyusul sorotan publik mengenai kondisi jalan yang dianggap cepat rusak dan tidak sesuai standar pada proyek peningkatan jalan di Segmen III Lahumbo, Kecamatan Paguyaman, Kabupaten Boalemo, pihak pelaksana proyek akhirnya memberikan penjelasan secara terbuka dan rinci.
Aldi Arafa, penanggung jawab lapangan (untuk hal teknis) dari PT. Tri Sandy Yudha, selaku kontraktor pelaksana pekerjaan, menegaskan bahwa proyek tersebut dikerjakan sesuai dengan tahapan, prosedur teknis, dan spesifikasi yang tertuang dalam kontrak kerja yang diawasi langsung oleh pihak Balai Pelaksana Jalan Nasional (BPJN).
“Kami memahami adanya kekhawatiran dari masyarakat. Namun penting kami sampaikan bahwa pekerjaan ini dilaksanakan secara bertahap, dengan pendekatan teknis yang ketat. Apa yang terlihat rusak pada tahap awal adalah bagian dari proses uji mutu dan bukan hasil akhir dari pekerjaan,” terang Aldi saat diwawancarai di lokasi proyek.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Prosedur Teknis Pekerjaan Jalan: Dari Dasar Hingga Lapisan Akhir
Aldi menjelaskan bahwa setiap tahapan pekerjaan jalan memiliki fungsi dan tujuan tertentu. Tidak semua lapisan yang dikerjakan langsung merupakan lapisan akhir, melainkan ada beberapa tahapan struktural yang perlu dilalui untuk memastikan daya tahan jalan dalam jangka panjang.
1. Pembersihan Lahan (Clearing and Grubbing)
Langkah awal pekerjaan dimulai dengan membersihkan area kerja dari material organik seperti semak, pepohonan, akar, batu, serta sampah-sampah yang bisa mengganggu proses pemadatan tanah dasar. Hal ini sangat krusial untuk memastikan tidak ada elemen yang melemahkan struktur jalan dari bawah.
2. Pengukuran dan Penandaan (Survey & Stake Out)
Setelah lahan bersih, tim teknis melakukan survei lapangan untuk menentukan jalur jalan, elevasi, dan lebar badan jalan sesuai dengan gambar rencana. Proses ini memastikan bahwa dimensi dan kontur jalan yang dibangun sesuai dengan standar teknis yang ditetapkan oleh BPJN.
3. Pemadatan Tanah Dasar (Subgrade)
Tanah dasar diratakan dan dipadatkan menggunakan alat berat (compactor) untuk mendapatkan daya dukung yang kuat. Tanah dasar yang stabil menjadi pondasi penting bagi seluruh lapisan struktur jalan di atasnya.
“Jika tanah dasarnya lembek atau jenuh air dan tidak dipadatkan dengan baik, maka seluruh lapisan di atasnya, termasuk aspal, akan ikut rusak. Oleh karena itu, pemadatan awal menjadi salah satu proses paling vital,” ujar Aldi.
4. Pekerjaan Perkerasan Bawah (Subbase & Base Course)
- Subbase Course (Lapisan Bawah): Menggunakan material agregat pilihan seperti sirtu (pasir batu) atau batu pecah, yang diratakan dan dipadatkan agar mampu menahan beban kendaraan.
- Base Course (Lapisan Pondasi Atas): Ini adalah lapisan utama yang akan menahan beban kendaraan berat. Kekuatan lapisan ini sangat menentukan umur pakai lapisan aspal di atasnya.
5. Pengaspalan Bertahap (Asphalt Layering)
Lapisan aspal tidak langsung dikerjakan secara utuh dalam satu kali pengerjaan. Prosesnya bertahap, dengan pengujian mutu dilakukan di setiap tahap. Menurut Aldi, lapisan awal pengaspalan justru berfungsi untuk mengidentifikasi titik-titik lemah, terutama saat dilalui kendaraan berat.
“Kami sengaja membuka jalan untuk dilewati mobil bertonase besar, karena ini bagian dari stress test. Kami ingin tahu bagian mana yang rentan sebelum aspal dilapisi sepenuhnya hingga ketebalan 15 cm. Ini cara kerja standar di proyek jalan nasional,” paparnya.
Kerusakan Awal: Bagian dari Proses Pengujian, Bukan Akhir dari Pekerjaan
Menanggapi keretakan yang terlihat pada lapisan awal, Aldi menyebutkan bahwa itu bukanlah hal yang mengejutkan dalam pekerjaan jalan. Bahkan, menurutnya, itu justru menandakan bahwa pekerjaan pengujian sedang berlangsung.
Ia menyebutkan sejumlah faktor yang umum menjadi penyebab keretakan pada tahap awal, di antaranya:
- Tanah dasar yang belum stabil (terlalu lembek atau terlalu jenuh air)
- Pemadatan yang belum sempurna akibat kondisi cuaca atau alat
- Sistem drainase yang belum rampung sehingga terjadi genangan air
Namun Aldi menegaskan bahwa setiap temuan di lapangan langsung dianalisis dan ditindaklanjuti sesuai protokol teknis. Pihaknya selalu berkoordinasi dengan konsultan pengawas dan instansi terkait.
Spesifikasi Proyek dan Komitmen Kontraktor
Proyek jalan Segmen III Lahumbo ini memiliki panjang 2,7 kilometer, dengan lebar 7 meter yang terdiri dari:
- 6 meter untuk badan jalan beraspal
- 1 meter untuk bahu jalan
Ketebalan total lapisan aspal yang akan dicapai adalah 15 cm, yang dilaksanakan dalam beberapa tahap pelapisan (layering), guna memastikan ikatan antara lapisan satu dengan lapisan berikutnya berjalan optimal.
“Setiap tahap pekerjaan kami lakukan berdasarkan petunjuk teknis dan spesifikasi dalam kontrak. Kami tidak asal kerja. Semua progres didampingi pengawas teknis dari balai, dan kualitasnya diuji di laboratorium mutu,” ujar Aldi.
Menutup penjelasannya, Aldi mengajak masyarakat untuk memahami bahwa proses pembangunan jalan bukanlah proses instan. Apa yang terlihat saat ini belum tentu mencerminkan hasil akhir. Diperlukan waktu, tahapan bertahap, dan evaluasi lapangan secara menyeluruh.
“Kami paham masyarakat ingin jalan yang bagus dan cepat selesai. Tapi dalam proyek ini, kualitas adalah prioritas. Kami akan terus bekerja profesional, dan proyek ini akan kami tuntaskan sesuai target dan standar,” pungkasnya




















