TRILOGIS (Boalemo) – Nilai sebuah ibadah tidak hanya diukur dari besarnya nominal, melainkan dari konsistensi dan ketulusan niat. Hal inilah yang dibuktikan oleh tujuh pemuda nelayan yang tergabung dalam Kelompok GGS (Gate-gate Suntung) dari Desa Pentadu Barat. Di tengah pasang surut pendapatan sebagai nelayan, mereka berhasil membuktikan bahwa keterbatasan ekonomi bukan penghalang untuk menunaikan ibadah kurban pada Hari Raya Idul Adha.
Ketujuh pemuda berhati mulia di dalam kelompok GGS (Gate-gate Suntung) tersebut adalah Andre Hunowu, Rizki Tohis, Raplin Yunus, Yasrin Kano, Aprin Oalo, Andrian Oalo, dan Jumardi. Melalui gerakan swadaya yang terstruktur, mereka berhasil mengumpulkan dana total sebesar Rp14.000.000 untuk membeli satu ekor sapi kurban.
Berawal dari Secercah Nasihat di Pengujung Idul Adha
Niat suci ini tidak tumbuh begitu saja. Gerakan ini lahir dari sebuah keprihatinan sekaligus motivasi yang membekas pada Idul Adha tahun lalu di Masjid Ihya Ulumuddin, Desa Pentadu Barat. Saat itu, masjid tercatat hanya mampu menyembelih satu ekor hewan kurban saja.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Melihat kondisi tersebut, Abdul Manaf Djafar, putra dari Takmirul Masjid Ihya Ulumuddin, memberikan sebuah saran pemantik saat mengumumkan nama-nama pekurban tahun lalu.
“Jika pemuda nelayan Suntun buat satu kelompok kurban, pasti akan bertambah lagi jumlah sapi kurban yang ada di masjid kita. Daripada menunggu orang dari luar untuk ikut kelompok kurban, lebih baik kita yang berada di dalam kompleks sendiri yang memulainya,” ujar Abdul Manaf kala itu.
Kalimat sederhana namun sarat makna itu ternyata membakar semangat mereka. Menanggapi tantangan kebaikan tersebut, dibentuklah Kelompok GGS (Gate-gate Suntung) sebagai motor penggerak nyata di desanya.
Konsistensi Rp200 Ribu Per Bulan dari Hasil Melaut
Mewujudkan niat tersebut tentu bukan perkara mudah bagi seorang nelayan tradisional yang pendapatannya sangat bergantung pada kondisi alam dan tangkapan di laut. Namun, dengan komitmen yang kuat, ketujuh pemuda di dalam kelompok GGS (Gate-gate Suntung) ini sepakat untuk menyisihkan sebagian kecil rezeki mereka.
Setiap bulannya, masing-masing pemuda disiplin menyisihkan uang sebesar Rp200.000 dari hasil melaut. Konsistensi yang dijaga selama 10 bulan berturut-turut tersebut akhirnya membuahkan hasil manis. Di akhir bulan kesepuluh, masing-masing pemuda berhasil mengumpulkan Rp2.000.000, sehingga akumulasi dana kelompok mereka mencapai Rp14.000.000—nominal yang lebih dari cukup untuk menebus satu ekor sapi kurban yang sehat.
Demi Senyum Kaum Duafa dan Jamaah Masjid
Langkah konkret yang diambil oleh Kelompok GGS (Gate-gate Suntung) ini membawa dampak besar bagi ekosistem sosial di Desa Pentadu Barat. Dengan bertambahnya hewan kurban dari kelompok pemuda nelayan ini, dipastikan distribusi daging kurban pada Idul Adha nanti akan jauh lebih merata.
Daging kurban yang dibagikan kini bisa menjangkau lebih banyak kepala keluarga, khususnya bagi kaum duafa dan seluruh jamaah Masjid Ihya Ulumuddin yang selama ini jarang tersentuh bantuan secara maksimal.
Langkah mulia para pemuda GGS (Gate-gate Suntung) ini tidak hanya menjadi simbol kesalehan sosial, tetapi juga menjadi ladang pemburu keberkahan spiritual. Dalam syariat Islam, ibadah kurban yang mereka perjuangkan dengan cucuran keringat ini mengandung lima keutamaan besar:
Mapatkan pahala syukur atas karunia Allah SWT: Menjadi wujud nyata rasa syukur atas limpahan karunia dan rezeki laut yang diberikan.
Mendapat pahala berbagi kebahagiaan dengan daging kurban: Menghadirkan senyuman dan kebahagiaan bagi sesama yang membutuhkan.
Mendapat ampunan dosa dari setiap tetesan darah kurban: Setiap darah yang mengalir menjadi wasilah pembersihan diri bagi para pekurban.
Mendapatkan kebaikan dari setiap bulu kurban: Catatan pahala yang berlipat ganda dari fisik hewan yang dikurbankan.
Mendapatkan pahala amalan yang dicintai Allah SWT: Menunaikan ibadah utama yang paling utama pada hari raya qurban.
Kisah dari Kelompok GGS (Gate-gate Suntung) ini menjadi tamparan sekaligus inspirasi bagi kita semua. Bahwa kurban bukan soal mampu atau tidak mampu, melainkan tentang mau atau tidak mau. Ketika para pemuda nelayan mampu mengetuk pintu langit dengan Rp200 ribu per bulan, maka tidak ada alasan lagi bagi kita untuk menunda sebuah kebaikan.



















