Trilogis.id_(Boalemo) — Sempat menjadi kebanggaan karena berhasil meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) pada tahun 2024, Direktur Rumah Sakit Iwan Bokings (RSIB) Boalemo, Dr. Hendra, kini menunjukkan nada pesimistis.
Dalam pemaparan APBD Perubahan tahun 2025 baru-baru ini, Dr. Hendra secara terus terang mengakui ketidakmampuannya untuk mencapai target PAD sesuai rencana awal, memicu kekhawatiran serius akan kondisi keuangan RSIB.
Jika awalnya RSIB menargetkan PAD sebesar Rp8,4 miliar, angka tersebut kini harus direvisi turun drastis menjadi Rp6,8 miliar untuk tahun 2025. Namun, bahkan dengan target yang telah diturunkan ini, posisi RSIB hingga bulan Agustus 2025 masih jauh dari harapan, dengan capaian yang baru menyentuh angka 44%.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Menurut Dr. Hendra, kemerosotan ini bukan tanpa alasan. Ia menyoroti adanya aturan baru dari BPJS Kesehatan yang mengamanatkan sedikitnya 144 penyakit harus ditangani di tingkat Puskesmas.
Kebijakan ini secara langsung berdampak pada jumlah kunjungan pasien ke RSIB, yang otomatis menekan angka pendapatan rumah sakit.
Penurunan jumlah pasien ini secara telak menghantam harapan RSIB untuk terus meningkatkan PAD.
Selain faktor kebijakan BPJS, Dr. Hendra juga mengungkapkan bahwa RSIB sedang menghadapi kendala internal yang tidak kalah serius.
Sejumlah layanan di rumah sakit terpaksa ditutup sementara karena adanya proyek perbaikan gedung. Kondisi ini membuat RSIB tidak bisa memberikan layanan tertentu, yang pada akhirnya semakin memperburuk capaian PAD.
Pernyataan Dr. Hendra ini menjadi alarm keras bagi Pemerintah Daerah Boalemo. Di satu sisi, RSIB adalah salah satu pilar utama pelayanan kesehatan sekaligus penyumbang PAD yang signifikan.
Namun di sisi lain, perubahan kebijakan BPJS dan kendala internal yang ada menunjukkan betapa rentannya sumber pendapatan ini.
Publik hingga anggota badan anggaran DPRD kabupaten Boalemo kini menantikan langkah strategis dari pihak manajemen RSIB dan pemerintah daerah untuk mengatasi situasi kritis ini, agar optimisme yang sempat membumbung tinggi tidak sirna di tengah jalan


















