Birokrasi Boalemo di Bawah Sandera Dendam Politik dan Arsitektur “Penumpang Gelap”

- Jurnalis

Senin, 27 April 2026 - 08:11 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Trilogis  (Opini/Tajuk) — Kondisi tata kelola pemerintahan di Kabupaten Boalemo saat ini sedang menghadapi ujian integritas yang serius. Berbagai peristiwa yang terjadi belakangan ini—mulai dari lelang jabatan hingga penunjukan posisi strategis—tidak bisa dilihat sebagai kejadian prosedural semata. Sebaliknya, ini adalah cerminan dari arsitektur birokrasi yang tampaknya didesain bukan berdasarkan merit system, melainkan sandera Dendam Politik lama dan kepentingan kelompok.

1. Penumpang Gelap dan Runtuhnya Menara Meritokrasi

Simbol paling kasat mata dari matinya meritokrasi di Boalemo adalah munculnya fenomena “Penumpang Gelap di BKAD”. Pelantikan Pimpinan Tinggi Pratama pada Badan Keuangan dan Aset Daerah tanpa melalui proses lelang jabatan yang transparan adalah pelanggaran etika administrasi yang berat. Bagaimana publik bisa percaya pada akuntabilitas keuangan daerah jika nakhodanya dipilih melalui “jalur belakang” yang gelap? BKAD kini menjadi simbol “jarahan” politik, bukan pusat profesionalisme.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

2. Sang Profesor dan Memori Kegagalan Masa Lalu

Krisis ini semakin ironis dengan hadirnya Prof. Dr. Nurdin Baderan yang kini dilantik sebagai Sekretaris Daerah (Sekda). Sebagai seorang akademisi dengan gelar tertinggi, publik awalnya menaruh harapan pada reformasi birokrasi. Namun, rekam jejaknya justru memicu skeptisisme yang mendalam.

Baca Juga :  Ikuti Rakor Analisa Data Ganda Pemilih tingkat Nasional, Ali Sahap: Boalemo Nol Data Ganda Pemilih

Publik tidak lupa bahwa saat menjabat sebagai Kepala Dinas Pertanian di masa lalu, program unggulan Kakao gagal total. Kegagalan tersebut bukan tanpa sebab; ada kesalahan fatal dalam mitigasi dan pemetaan wilayah, seperti penanaman di wilayah pesisir yang tidak sesuai dengan karakteristik tanaman. Menempatkan figur yang pernah gagal dalam kebijakan strategis di posisi administratif tertinggi (Sekda) adalah bentuk manajemen risiko yang buruk. Gelar profesor seolah hanya menjadi tirai untuk menutupi rapor merah masa lalu.

3. Ironi Sekda Luar Daerah dan Pengabaian Kader Internal

Klaim mengenai kurangnya SDM internal Boalemo sering digunakan sebagai apologi untuk membenarkan penunjukan figur dari luar daerah. Ini adalah ironi yang menyakitkan sekaligus penghinaan terhadap proses kaderisasi internal.

Padahal, Boalemo tidak kekurangan kader yang mumpuni. Sebagai pembanding, Sekda sebelumnya adalah seorang ASN yang telah mengikuti Pelatihan Kader Nasional, sebuah standar tertinggi dalam kepemimpinan birokrasi. Dengan mengabaikan kader internal yang sudah “terdidik dan teruji” secara nasional demi mendatangkan figur luar yang memiliki catatan kegagalan, kepemimpinan saat ini seolah sedang melakukan sabotase terhadap masa depan birokrasi Boalemo sendiri.

Baca Juga :  Polres Boalemo Lakukan Operasi Disiplin Prokes dan bagikan sembako untuk masyarakat

4. Dendam Politik sebagai Panglima

Di balik semua kekacauan prosedural ini, terdapat benang merah yang mengarah pada narasi Dendam Politik. Berbagai kebijakan mutasi dan pengisian jabatan tampak sarat dengan nuansa pembersihan elemen masa lalu. Prahara di birokrasi ini bukanlah demi peningkatan kinerja, melainkan konsolidasi kekuatan politik pasca-pilkada. Dendam politik telah menjadi “panglima” yang mendikte siapa yang boleh menjabat, mengabaikan fakta bahwa birokrasi seharusnya netral dan profesional.

Kesimpulan

Birokrasi Boalemo sedang sakit. Ia tidak lagi berfungsi sebagai pelayan publik yang objektif, melainkan alat konsolidasi kekuasaan. Jika “Penumpang Gelap” diizinkan memimpin lembaga keuangan, kegagalan masa lalu di Dinas Pertanian justru dihadiahi jabatan Sekda, dan kader nasional internal disingkirkan demi kepentingan politik, maka rakyat Boalemo-lah yang akan menanggung kerugiannya. Kepemimpinan hari ini sedang membangun monumen kegagalan di atas sisa-sisa reruntuhan meritokrasi.

Penulis : Redaksi

Berita Terkait

Skandal Pelantikan Kepala BKAD: Jabatan “Basah”, Melawan Undang-Undang ?
Menjaga Marwah Birokrasi; Antara Kompetensi Pemimpin dan Bahaya “Penumpang Gelap”
Sekda Gagal, Kepala BKAD Ilegal?
Ironi Gelar Profesor dan “Lonceng Kematian” Meritokrasi di Boalemo
Redam Gejolak, Wakil Bupati Boalemo “Jemput Bola” Temui Masyarakat Wonosari Demi Solusi Cepat
Apresiasi Lokasi KNMP Boalemo, Irjen KKP Beri Sinyal Kehadiran Prabowo Subianto untuk Peresmian
Pemerintah Hadir: Lahmudin “Pasang Badan” soal Penanganan Banjir di Mohungo
Sering Terendam Banjir Saat Hujan Deras, Wabup Boalemo Tinjau Lokasi Pembangunan Embung di Mohungo

Berita Terkait

Senin, 27 April 2026 - 10:56 WITA

Skandal Pelantikan Kepala BKAD: Jabatan “Basah”, Melawan Undang-Undang ?

Senin, 27 April 2026 - 08:11 WITA

Birokrasi Boalemo di Bawah Sandera Dendam Politik dan Arsitektur “Penumpang Gelap”

Sabtu, 25 April 2026 - 18:28 WITA

Menjaga Marwah Birokrasi; Antara Kompetensi Pemimpin dan Bahaya “Penumpang Gelap”

Jumat, 24 April 2026 - 18:40 WITA

Sekda Gagal, Kepala BKAD Ilegal?

Rabu, 15 April 2026 - 22:57 WITA

Redam Gejolak, Wakil Bupati Boalemo “Jemput Bola” Temui Masyarakat Wonosari Demi Solusi Cepat

Berita Terbaru

Headline

Sekda Gagal, Kepala BKAD Ilegal?

Jumat, 24 Apr 2026 - 18:40 WITA

Advertorial

Rakor Ditutup, Pemkab Boalemo Siap Tekan Angka Penyakit

Jumat, 24 Apr 2026 - 18:34 WITA