Sekda Boalemo: Kompetisi Terbuka atau Arsitektur Balas Budi?

- Jurnalis

Senin, 27 April 2026 - 18:46 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Trilogis (Opini/Tajuk) — Jabatan Sekretaris Daerah (Sekda) adalah tiang pancang administrasi daerah, bukan kursi hadiah untuk kroni politik. Berdasarkan UU ASN, pengisian jabatan pimpinan tinggi harus dilakukan secara terbuka dan kompetitif (Merit System). Namun, dinamika di Boalemo belakangan ini mengundang tanda tanya besar terkait integritas dan objektivitas pimpinan daerah (Bupati) dalam proses ini. Publik melihat proses ini bukan sebagai kompetisi, melainkan panggung sandiwara untuk melayani kepentingan pimpinan semata.

1. Pengabaian Standar Tinggi demi Pilihan Subjektif Bupati

Kritik paling tajam mengarah pada pembiaran Bupati terhadap penurunan standar kualifikasi untuk jabatan Sekda. Publik dipaksa melakukan perbandingan yang menyakitkan:

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

  • Profil Sekda Sebelumnya: Putra daerah berlatar belakang Doktoral (S3) dan telah lulus Diklat PIM I. Ini adalah puncak kualifikasi administratif dan kompetensi manajerial tingkat nasional dalam birokrasi Indonesia.
  • Profil Sekda Terpilih: Latar belakang akademis (Dosen) yang minim pengalaman manajerial pemerintahan, dan rekam jejak birokrasinya cacat akibat kegagalan program unggulan “Kakao” saat menjabat sebagai Kepala Dinas.
Baca Juga :  Polemik Pilkades. Pengamat : Sekda Boalemo "Omong Kosong"

Mengapa Bupati menurunkan standar kualifikasi yang begitu tinggi—yang sebelumnya telah terbukti mampu memandu daerah—demi memilih figur yang memiliki rapor merah? Kegagalan ini menunjukkan bahwa Bupati tidak objektif dalam menilai kapasitas; Bupati tampaknya lebih mengutamakan figur yang bisa dikendalikan daripada figur yang kompeten dan berpengalaman. Ini adalah bentuk pengkhianatan terhadap prinsip dasar manajemen ASN yang profesional.

2. Penempatan “Budi Politik” di Atas Profesionalisme

Informasi yang beredar kuat di masyarakat menunjukkan bahwa penunjukan Sekda baru adalah bentuk “Budi Politik”akibat kedekatan khusus dengan Bupati, bukan berdasarkan objektivitas pansel. Bupati secara sadar menciptakan situasi di mana:

  • Kegagalan Dihargai: Variabel kegagalan program Kakao tampaknya diabaikan dalam penilaian Pansel atas restu Bupati. Jika seorang pejabat yang gagal di level dinas justru dipromosikan ke jabatan tertinggi birokrasi, maka objektivitas Bupati sangat patut dipertanyakan. Bupati tidak lagi mencari pemimpin birokrasi, tapi “pembersih piring” politiknya.

3. Ujian Formalitas dan Pengangkatan yang Tidak Sahih

Proses “lelang jabatan” ini tampak jelas hanya sebagai formalitas untuk memenuhi persyaratan hukum yang kemudian dilanggar demi subjektivitas Bupati. Ketika variabel kedekatan mengalahkan kapasitas dan rekam jejak, maka Bupati telah membunuh prinsip meritokrasi.

Baca Juga :  Arah Pergeseran Ketua DPRD Boalemo, Mengikuti Estafet DPC PDI Perjuangan?

Pengangkatan Sekda baru ini cacat moral dan administratif. Jika Bupati mengabaikan standar kaderisasi nasional yang ada (seperti PIM I yang dimiliki pendahulu), maka Bupati secara sadar sedang menghancurkan masa depan birokrasi Boalemo demi syahwat kekuasaan sesaat. Langkah Bupati ini telah mencederai hak masyarakat untuk dilayani oleh birokrat terbaik.

Pelantikan yang Tanpa Marwah

Pelantikan ini tidak menyelesaikan masalah; ia justru membuka borok subjektivitas kepemimpinan daerah. Masyarakat Boalemo tidak membutuhkan stempel Bupati yang dipilih melalui proses penuh perdebatan. Pertanyaan fundamentalnya adalah: Akankah Sekda baru ini mampu melampaui standar tinggi yang diletakkan pendahulunya, ataukah dia hanya akan menjadi budak politik pimpinan yang harus menebus “budi politik” tersebut dengan mengorbankan integritas birokrasi? Kegagalan Bupati untuk bertindak objektif dalam seleksi ini adalah preseden buruk bagi masa depan Boalemo.

Penulis : Redaksi

Berita Terkait

Rapor Merah PAHAM: Janji Pembangunan, Utang BPJS, dan Sejumlah Persoalan yang Belum Tuntas
Menyelamatkan Nyawa, Kehilangan Hak: Jeritan Nakes di Balik Penolakan Klaim BPJS
Kisah Inspiratif; Dari Perahu, 7 Pemuda Sukses Patungan beli Sapi Kurban untuk Kaum Duafa
Sekda dan Krisis Plasma Sawit: Diam, Mengawasi, atau Membiarkan?
Isu Maladministrasi Sejumlah Kadis di Boalemo, Kepegawaian, Inspektorat dan Sekda Cuek?
Gelar Tinggi Tak Menjamin Kepatuhan: Ironi di Balik Pelantikan Cacat Hukum
Prabowo: Selama 34 Tahun Rp.15.400 Triliun Kita Hilang Akibat Praktik Kecurangan Ekspor

Berita Terkait

Minggu, 14 Juni 2026 - 16:15 WITA

Rapor Merah PAHAM: Janji Pembangunan, Utang BPJS, dan Sejumlah Persoalan yang Belum Tuntas

Kamis, 4 Juni 2026 - 23:02 WITA

Menyelamatkan Nyawa, Kehilangan Hak: Jeritan Nakes di Balik Penolakan Klaim BPJS

Senin, 1 Juni 2026 - 14:49 WITA

Rabu, 27 Mei 2026 - 21:44 WITA

Kisah Inspiratif; Dari Perahu, 7 Pemuda Sukses Patungan beli Sapi Kurban untuk Kaum Duafa

Rabu, 27 Mei 2026 - 21:06 WITA

Sekda dan Krisis Plasma Sawit: Diam, Mengawasi, atau Membiarkan?

Berita Terbaru

Headline

Senin, 1 Jun 2026 - 14:49 WITA