“Kursi Kosong”, Boikot Ketua DPRD Boalemo Berkepanjangan Lumpuhkan Nadi Legislasi dan Merugikan PDIP ?

- Jurnalis

Sabtu, 18 Juli 2026 - 01:28 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Trilogis (Opini/ Tajuk) — Ruang sidang paripurna DPRD Kabupaten Boalemo beberapa hari lalu kembali mempertontonkan pemandangan yang sunyi di meja pimpinan. Kursi empuk Ketua DPRD tampak lengang, membiarkan seisi ruangan menjadi saksi bisu atas absennya sang empunya kuasa, Eka Putra Noho. Politisi senior PDI Perjuangan tersebut dilaporkan kembali tak hadir karena tengah melakoni perjalanan dinas mendampingi Penjabat Bupati Boalemo.

Ketidakhadiran ini bukan lagi sekadar urusan agenda seremonial, melainkan sinyal kuat bahwa badai politik di parlemen daerah ini masih enggan melandai.

Absennya sang ketua seolah mengonfirmasi bahwa desas-desus boikot berkepanjangan bukan lagi sekadar gertakan di atas kertas. Sejumlah ketua fraksi yang sebelumnya telah melayangkan surat penolakan tertulis terhadap kepemimpinan Eka Putra Noho, hingga kini masih menjaga bara perlawanan mereka tetap menyala.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Tidak ada tanda-tanda “palu penolakan” itu akan ditarik kembali dalam waktu dekat. Ruang dewan yang seharusnya melahirkan kebijakan-kebijakan taktis kini justru dipaksa menghela napas panjang, terjebak dalam pusaran ketidakpastian yang seolah sengaja dipelihara.

Jika ditinjau dari kacamata geopolitik lokal, situasi ini jelas menjadi pukulan telak yang menggerogoti stabilitas PDI Perjuangan di parlemen Boalemo. Sebagai partai pemenang yang memegang tiket emas kepemimpinan, PDIP kini ibarat nakhoda yang kehilangan kemudi utamanya di tengah ombak legislasi. Ketika kursi ketua terus-menerus “dijauhi” dan dikosongkan oleh dinamika boikot, posisi tawar (Bargaining Power) partai berlambang banteng moncong putih ini otomatis merosot dalam forum-forum strategis dan lobi-lobi politik anggaran.

Baca Juga :  Menakar Etika dan Independensi: Ujian Transparansi di Balik Peminjaman Kendaraan Dinas Pemda oleh Kejati

Lebih jauh lagi, konflik internal legislatif ini secara perlahan menelanjangi rapuhnya komitmen terhadap regulasi dan Tata Tertib (Tatib) dewan yang disepakati bersama. Tatib DPRD dirancang untuk memastikan jalannya roda organisasi legislatif secara kolektif-kolegial yang sehat dan berwibawa. Namun, ketika boikot formal dipelihara tanpa ada ruang kompromi dan mediasi yang konkret, regulasi internal tersebut seolah kehilangan taringnya, kalah telak oleh ego kelompok yang egois dan mementingkan kelompoknya sendiri.

Kondisi ini memicu tanda tanya besar yang kini mengetuk kesadaran kolektif masyarakat: di manakah sebetulnya kepentingan rakyat Boalemo diletakkan dalam konflik ini? Ruang sidang dewan dibiayai oleh keringat rakyat bukan untuk memanggungkan drama perseteruan elite yang kekanak-kanakan, melainkan untuk menggodok formula kesejahteraan. Setiap hari yang terbuang dalam aksi boikot dan absensi pimpinan adalah hari di mana aspirasi publik tentang infrastruktur, kesehatan, dan pendidikan daerah sengaja dibiarkan telantar di koridor-koridor buntu.

Baca Juga :  Darwis Moridu resmi pindah ke Nasdem?

Secara etis, publik tentu berhak menggugat legitimasi moral dari para wakil mereka. Konstitusi memberikan hak imunitas dan fasilitas kedewanan dengan satu syarat mutlak: bekerja demi kemaslahatan rakyat banyak. Jika panggung paripurna dipaksa terus mengalah pada kebuntuan politik dan agenda perjalanan dinas pimpinan dirasa lebih mendesak ketimbang membereskan kemelut di rumah sendiri, maka asas kepatutan dan kode etik publik jelas telah cedera.

Pada akhirnya, Boalemo tidak boleh dibiarkan terus tersandera oleh ego politik yang berkepanjangan ini. PDI Perjuangan perlu segera mengambil langkah taktis untuk menyelamatkan marwah politiknya, sementara fraksi-fraksi yang berseberangan harus ingat bahwa boikot bukanlah solusi permanen yang sehat bagi demokrasi.

Jika drama kursi kosong ini terus berlanjut tanpa ada titik temu, maka pemenang sesungguhnya dari konflik ini tidak akan pernah ada, dan yang tersisa hanyalah kekalahan telak bagi seluruh rakyat Kabupaten Boalemo yang kepentingannya telah digadaikan.

Penulis : Reyn Daima|Redaksi

Berita Terkait

Jangan Salah Tafsir, Pengawasan DPRD Bukan Tanpa Aturan
Jalan Rusak Parah Puluhan Tahun, Bupati Buta, DPRD Bisu; Uang Rakyat ke Mana?
Boikot untuk Ketua; DPRD Boalemo mulai Retak ??
Walk Out. LKPJ Rum Pagau Nyaris Tak Diterima DPRD Boalemo??
Regulasi “Dikebiri”, Kursi Kadis Dikbud Boalemo Diduga Lahir dari Rahim Prosedur Cacat?
Matinya DPRD Boalemo. Ketika Pengawasan Kehilangan Daya, Legislasi Kehilangan Arah
Bukan Sekadar Timbang Balita, Posyandu Desa Mustika Kini Jadi Oase Kesehatan Warga
Aksi Nyata Pemerintah; Dikes, PKM, BKK, TNI-Polri Putus Mata Rantai Penyakit

Berita Terkait

Sabtu, 18 Juli 2026 - 01:28 WITA

“Kursi Kosong”, Boikot Ketua DPRD Boalemo Berkepanjangan Lumpuhkan Nadi Legislasi dan Merugikan PDIP ?

Selasa, 7 Juli 2026 - 12:19 WITA

Jangan Salah Tafsir, Pengawasan DPRD Bukan Tanpa Aturan

Selasa, 7 Juli 2026 - 11:37 WITA

Jalan Rusak Parah Puluhan Tahun, Bupati Buta, DPRD Bisu; Uang Rakyat ke Mana?

Selasa, 7 Juli 2026 - 00:20 WITA

Boikot untuk Ketua; DPRD Boalemo mulai Retak ??

Senin, 6 Juli 2026 - 23:44 WITA

Walk Out. LKPJ Rum Pagau Nyaris Tak Diterima DPRD Boalemo??

Berita Terbaru

Cerpen

Jangan Salah Tafsir, Pengawasan DPRD Bukan Tanpa Aturan

Selasa, 7 Jul 2026 - 12:19 WITA

Cerpen

Boikot untuk Ketua; DPRD Boalemo mulai Retak ??

Selasa, 7 Jul 2026 - 00:20 WITA