Trilogi.id – Tajuk
Oleh : Ramli Syawal
Anak Pesisir
Saya bangga lahir di Boalemo, tepatnya lahir di Desa Pentadu Barat, Kec. Tilamuta Kab. Boalemo, salah satu kabupaten tua di jantung Provinsi Gorontalo. Saya terlahir sebagai anak pesisir dan anak dari seorang nelayan. Tentu tempat bermain saya di laut dan pasti saya sudah pernah merasakan lezatnya berbagai macam jenis ikan dan tidak makan batu karang. Buat kami masyarakat pesisir, batu karang itu harus dijaga dan dirawat, sebab merupakan salah satu media penyuplai emisi karbon saat terjadinya pemanasan global.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Saya anak pesisir, lahir dan dibesarkan di tengah-tengah kehidupan pantai. Masa kecil saya dihabiskan dengan bermain di pesisir pantai. Bertahun-tahun –bahkan sampai sekarang— saya masih tetap menyaksikan rutinitas masyarakat pesisir sebagai nelayan. Bisa dikatakan –meskipun tidak semua—hampir setiap hari kami bercengkrama dengan mentari dan menerjangi ombak. Makanya tidak heran jika kulit yang legam menjadi ciri khas kami.
Terlepas dari semua itu, saya sangat beruntung dan bersyukur terlahir sebagai anak pesisir, karena tanpa sadar ini membentuk pribadi saya. Teman saya pernah mengatakan “kesadaran terbentuk karena sebuah keadaan”, dan karena itu pula saya terobsesi ingin mengembangkan tempat kelahiran saya. Mengembangkan kawasan pesisir menjadi satu kawasan yang memberikan manfaat sosial ekonomi yang besar bagi para nelayan dan warga sekitar.
Terima Kasih Bapak Bupati
Akhirnya keinginan saya–dan tentunya keinginan semua masyarakat pesisir— akan diwujudkan. Mega proyek yang dicanangkan oleh Bapak Bupati Boalemo seakan memberikan warna kebahagiaan baru buat kami. Keinginan yang setelah sekian tahun tertumpuk dibenak saya akan direalisasikan. Pencanangan mega proyek ini di antaranya, Pembangunan Pelabuhan Tilamuta yang bekerjasama dengan Pelindo IV dan Pelurusan Rute Jalan dari Paguyaman hingga Mananggu.
Pembangunan pun dimulai. Tahap demi tahap telah dibangun. Rumah-rumah tetangga telah digusur dan direlokasi untuk lancarnya pembangunan pelabuhan.
Setelah beberapa tahun dilewati dengan penantian, pembangunan yang sementara dikerjakan ini tiba-tiba diberhentikan. Sudah tidak ada lagi para pekerja yang terlihat. Dengan kebingungan, saya pun bertanya-tanya; “ini kenapa? Kok, tiba-tiba pembangunan pelabuhan berhenti?”.
Berbagai macam cara saya lakukan untuk mendapatkan jawabannya. Tapi jawaban yang saya terima selalu mengarah ke persoalan politis. Oke baik, ini pasti ada sesuatu, kalau arahnya ke politik, mungkin tidak sulit untuk saya telusuri. Apalagi almarhum Ayah sayapernah menduduki salah satu jabatan selama 32 tahun, kok. Tapi bukan Presiden 33 tahun, yaaa.
Tidak butuh waktu lama, akhirnya saya menemukan jawabannya. But anyway, tenang saja. Saya tidak perlu mengulas itu dengan menarasikan panjang lebar dalam tulisan ini. Akan tetapi, sebagai warga negara yang baik, saya mengucapkan banyak terima kasih kepada Bapak Bupati. Terima kasih pertama, karena bapak sudah membantu untuk mewujudkan keinginan saya dan masyarakat pesisir lainnya dalam hal pembangunan pelabuhan. Terima kasih kedua, karena sudah mengajarkan saya bagaimana cara melakukan investigasi atas setiap masalah yang ada.
Panglima Pembangunan
Panglima pembangunan, itulah sebutan yang disematkan kepada bapak Bupati. Di tangan beliau berbagai macam pembangunan telah dijalankan, termasuk pelabuhan dan pelurusan jalan dari ujung Paguyaman hingga Mananggu. Tapi, dari sini pula “pelajaran” investigasi saya pun dimulai. Dari pembangunan Pelabuhan yang tak kunjung selesai dan pelurusan jalan yang berhenti begitu saja, yang sama sekali tidak ada penjelasan apa-apa.
Saya memulainya dari pembangunan pelurusan jalan sebagai langkah awal untuk menemukan jawaban. Karena saya tahu, motif pembangunan pelurusan jalan ini sangat bagus karena bertujuan mengurangi waktu jarak tempuh bagi pengendara roda 2, 3 dan 4.
Ada beberapa hal dalam memulai dan saya temukan dalam investigasi ini;
- Pembangunan jalan yang tak dilanjutkan.
- Pembangunan plat deker yang lebarnya sekitar 30 meter, antara ruas kiri dan kanan jalan, dan
- Pembanguan/pelebaran ruas jalan Bongo Nol, pembangunan ruas jalan akses pelabuhan Tilamuta, pembangunan ruas jalan Tangga Barito-Moliliulo, nilai pagu anggarannya Rp. 51.000.000.000,00 atau 51 M, yang dalam hasil evaluasinya dimenangkan oleh PT. Waskita Karya (Persero) Tbk.
Dan masih banyak lagi, yang mungkin akan saya jabarkan dalam beberapa tulisan selanjutnya sebagai menu tambahan untuk menemani aktifitas teman-teman. Oh iya, mungkin pertanyaan ini bisa dijadikan sebagai menu penutup; “SIAPAKAH YANG BERTANGGUNGJAWAB ATAS SEMUA INI?” Terima kasih…
Tulisan ini dipertanggungjawabkan oleh Penulis


















