Boalemo di Ambang Kolaps: Sekda Mangkir dari DPRD saat Nasib Ribuan Tenaga Honorer Jadi Pertaruhan

- Jurnalis

Selasa, 5 Mei 2026 - 03:15 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Trilogis (Opini/Tajuk) — Kabupaten Boalemo saat ini sedang meniti titian serabut di atas jurang krisis fiskal. Di tengah ancaman efisiensi yang mencekik, ketidakhadiran Sekretaris Daerah (Sekda) dalam rapat koordinasi bersama Komisi 1 DPRD Boalemo bukan sekadar urusan jadwal yang bentrok, melainkan sebuah sinyal bahaya bagi tata kelola birokrasi dan kemaslahatan orang banyak.

1. Defisit Empati di Tengah Potensi Kolaps Fiskal

Boalemo menghadapi kenyataan pahit dengan kebutuhan anggaran mencapai 3 Miliar per bulan untuk membiayai gaji atau honorarium sekitar 1.530 orang. Dalam kalkulasi satu tahun anggaran, beban ini menjadi pilar krusial yang menentukan apakah daerah akan tetap stabil atau justru mengalami kolaps finansial.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Ketidakpastian PPPK/Tenaga Kontrak: Mangkirnya Sekda dari undangan legislatif untuk memberikan kejelasan nasib 1.530 tenaga kerja tersebut adalah bentuk pengabaian terhadap rasa kemanusiaan.

Risiko Ekonomi: Kegagalan mengelola anggaran untuk seribuan orang ini akan berdampak langsung pada daya beli masyarakat, yang pada akhirnya memperburuk status Boalemo sebagai kabupaten dengan angka kemiskinan tertinggi di Gorontalo.

Baca Juga :  Minimalisir Non Job, Darwis : Sekda harus Proaktif

2. Rentetan Ketidaksesuaian: Beban Pilihan Bupati?

Sikap mangkir ini seolah menjadi pembenar atas keraguan publik terhadap kapasitas manajerial Sekda sejak awal dipilih oleh Bupati Rum Pagau. Sebagai panglima ASN dan Ketua TAPD, Sekda seharusnya menjadi jembatan solusi, bukan justru menjadi tembok penghalang komunikasi antara eksekutif dan legislatif.

Pelecehan Lembaga Legislatif: Menghindari undangan Komisi 1 adalah bentuk pembangkangan terhadap fungsi check and balances. Hal ini menambah panjang daftar ketidaksesuaian kinerja pejabat yang dipilih melalui diskresi politik ketimbang kematangan birokrasi.

Krisis Tanggung Jawab: Di saat rakyat butuh kepastian terkait keberlanjutan penghidupan mereka, Sekda justru menunjukkan sikap yang tidak sinkron dengan kebutuhan mendesak daerah yang sedang sakit secara finansial.

3. Gagap Birokrasi dan Manajemen Konflik

Absennya Sekda dalam forum krusial ini mengindikasikan adanya “gagap birokrasi” dalam menghadapi tekanan anggaran. Menghindari dialog dengan DPRD menandakan ketidaksiapan dalam melakukan komunikasi politis dan manajemen konflik yang transparan.

Baca Juga :  Yesmar Panigoro Ajak masyarakat awasi Politik Sara, dan Kampanye Hitam di Sosmed

Ego Sektoral vs Maslahat Umum: Jika pimpinan tertinggi birokrasi lebih memilih menghindar daripada duduk bersama mencari jalan keluar bagi 1.530 keluarga, maka muruah pemerintahan sedang dipertaruhkan.

Instabilitas Daerah: Ketidakjelasan nasib tenaga kontrak akibat tersumbatnya komunikasi ini dapat memicu gejolak sosial yang tidak perlu, yang justru akan mempercepat “kolapsnya” stabilitas daerah Boalemo.

Sekda Boalemo tidak boleh lupa bahwa jabatannya adalah amanah untuk mengurus urusan publik, bukan sekadar pelindung kepentingan penguasa. Menghindari DPRD saat daerah berada di ujung tanduk krisis anggaran adalah tindakan yang mencederai etika birokrasi. Boalemo tidak butuh pejabat yang pandai bersiasat untuk menghindar, tetapi pemimpin yang berani bertanggung jawab atas setiap rupiah anggaran demi menyelamatkan nasib ribuan rakyatnya dari ancaman kemiskinan dan ketidakpastian.

Berita Terkait

Di Tengah Instruksi Efisiensi, Pemda Malah Anggarkan Pengadaan Mobil Baru?
Hardiknas: Birokrasi dalam Pasungan Politik dan Nasib Generasi, Moralitas, serta Kemiskinan Boalemo
Peringati Hardiknas 2026, Pemkab Boalemo Tekankan Spirit “Deep Learning” dan Pembangunan SDM Unggul
Dari Keringat ke Hak: Sejarah Panjang Perjuangan Buruh
BALIK PROGRAM KKG: KETIKA PENINGKATAN KOMPETENSI GURU DIBAYAR OLEH SISWA MISKIN
Teater ‘Sistem Merit’ di Jakarta, Tragedi Maladministrasi di Boalemo
Membajak Masa Depan Sekolah Demi ‘Syahwat’ Struktural
Lompatan Quantum: Ketika ‘Kapur Tulis’ Harus Mengurus ‘Neraca Koperasi’ Tanpa Magang

Berita Terkait

Selasa, 5 Mei 2026 - 17:48 WITA

Di Tengah Instruksi Efisiensi, Pemda Malah Anggarkan Pengadaan Mobil Baru?

Selasa, 5 Mei 2026 - 03:15 WITA

Boalemo di Ambang Kolaps: Sekda Mangkir dari DPRD saat Nasib Ribuan Tenaga Honorer Jadi Pertaruhan

Sabtu, 2 Mei 2026 - 15:40 WITA

Hardiknas: Birokrasi dalam Pasungan Politik dan Nasib Generasi, Moralitas, serta Kemiskinan Boalemo

Sabtu, 2 Mei 2026 - 12:21 WITA

Peringati Hardiknas 2026, Pemkab Boalemo Tekankan Spirit “Deep Learning” dan Pembangunan SDM Unggul

Jumat, 1 Mei 2026 - 00:47 WITA

Dari Keringat ke Hak: Sejarah Panjang Perjuangan Buruh

Berita Terbaru

Headline

Dari Keringat ke Hak: Sejarah Panjang Perjuangan Buruh

Jumat, 1 Mei 2026 - 00:47 WITA