Bab 2 – Di Antara Dua Respons
Sebuah tulisan berjudul “Uang Jalan-Jalan yang Tak Pernah Ada” muncul di portal media lokal TrilogiNews, ditulis oleh akun penulis tamu: NASA. Bukan nama sebenarnya. Tapi semua yang membaca tahu, ini bukan tulisan sembarangan.
Ia menyebut angka—1,2 miliar rupiah untuk perjalanan dinas tahun 2022 yang diduga fiktif. Ia menyebut lokasi—Denpasar, Makassar, dan Jakarta, padahal sejumlah nama terbukti tak pernah meninggalkan Tanowa. Ia menyebut metode—notulen palsu, SPPD tempel, tiket sekali pakai yang difotokopi untuk lima orang.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Dan yang paling gawat, NASA menyebut nama. Inisial setidaknya.
“R.L., W.K., dan R.D. adalah sebagian dari mereka yang kini naik jabatan, tapi belum pernah turun ke pengadilan.”
Grup WhatsApp alumni berbagai Universitas di Tanowa mulai riuh. Di satu sisi, emoji tepuk tangan dan bendera merah-putih membanjiri. Di sisi lain, ada yang hanya membalas dengan satu emoji jempol—dingin dan ambigu. Tak sedikit pula yang mulai menghapus komentar mereka lima menit setelah mengirimnya.
Di grup jurnalis lokal, seorang wartawan muda mengirim pesan pribadi ke NASA:
“Tulisannya mantap. Tapi hati-hati, Bang. Saya cuma bisa dukung diam-diam.”
Tiga menit kemudian, pesan lain masuk. Tapi nadanya berbeda.
“Kau pikir kau siapa, hah? Keluargamu semua bersih, ya? Jangan main api, NASA.”
Maryanasa membaca semuanya dari kamar sempitnya di belakang kampus tua. Ia tak pernah tampil sebagai NASA, tapi semua tulisan itu berasal dari tangannya. Ia yang mengumpulkan data dari notulen, honorarium, dan daftar absen yang penuh kejanggalan. Ia yang menyatukannya jadi narasi tajam yang bisa membelah batas antara diam dan perlawanan.
Hari itu, NASA jadi topik. Tapi Marya tetap tak terlihat.
Ia tahu ini bagian paling rawan: ketika kebenaran mulai menyebar tapi keadilan belum datang.
Di ruang kerja Kejari Lelata, Kepala Seksi Intelijen, seorang jaksa muda bernama Harlan, membaca tulisan itu sambil mengerutkan alis. Ia tahu tekanan akan datang dari dua arah: dari dalam dan luar. Tapi ia juga sadar, tulisan ini membuat publik membuka mata. Dan untuk sesaat, itu membuatnya gelisah sekaligus… lega.
Malamnya, Maryanasa menulis ulang catatan hariannya:
“Di Tanowa, kejujuran bisa dibalas dua hal: dukungan diam-diam, atau ancaman terang-terangan. Tapi yang paling mengerikan adalah mereka yang membalas dengan diam panjang, karena dari sanalah biasanya jebakan disusun.”
Besoknya, seseorang dari pusat kekuasaan menelepon Rama Lontara.
“Masih aman?”
Rama menjawab pelan, “Belum tentu.”
“Siapa di balik NASA itu?”
“Belum tahu.”
Hening sejenak.
“Kalau tahu, jangan ragu. Kalau perlu, potong sebelum tumbuh.”
Dan malam itu, Maryanasa mulai merasa sesuatu mengawasinya. Tak lewat layar. Tapi dari balik kabut, dari bayang tak dikenal, yang pelan-pelan mulai mendekat.
Bersambung…



















