Bab 10
Pagi itu, halaman depan Kantor Kejaksaan Negeri Lelata dipenuhi suara lantang mahasiswa. Spanduk terbentang:
“USUT TUNTAS KORUPSI PERDIS FIKTIF DPRD TANOWA!”
Orasi menggema, membawa satu pesan:
“Jangan berhenti di satu tahun. Buka semua!”
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Di tengah panas dan sorak, tiba-tiba seorang jaksa keluar membawa sepucuk surat bermeterai. Surat itu ditandatangani langsung oleh Kepala Kejari Lelata.
“Kami berkomitmen menuntaskan perkara ini secara utuh dan transparan.”
Massa bersorak.
Media lokal menyorot headline:
“Kejari Janji Usut Tuntas Dugaan Korupsi Perdis DPRD.”
Tapi yang tidak semua tahu:
Beberapa jam sebelum aksi dimulai, telah terjadi sesuatu.
Sinyal dari Pusat
Malam sebelumnya, seorang pejabat intel Kejari menerima pesan dari nomor tak dikenal. Bukan ancaman. Tapi dokumen PDF.
“Kami rakyat Tanowa yang menolak dikibuli.
Surat ini kami tujukan ke lembaga anti rasuah pusat,
sebagai permintaan pengawasan khusus atas proses hukum
kasus korupsi perjalanan dinas fiktif DPRD Tanowa.”
Isinya tajam dan terstruktur.
Bukan tulisan sembarangan.
Dan pengirimnya — anonim, tapi rapi.
Tak lama, staf di Kejari mengonfirmasi:
Surat tersebut benar telah dikirim langsung ke pusat.
Pengawalan Eksternal
Lembaga anti rasuah pusat memang belum bersuara. Tapi sistem mereka mendeteksi dan mencatat setiap surat pengaduan. Dalam struktur tertentu, pengawasan dari pusat mengubah ritme kerja daerah.
“Kalau ini naik ke pengawas pusat, kita tak bisa main aman lagi.”
“Panggil semua tim. Ini harus dibuka lebih serius.”
Surat itu menjadi semacam katalis.
Tidak memaksa, tapi menekan.
Tak terlihat, tapi mengunci ruang-ruang kelambanan.
Siapa Pengirimnya?
Di kalangan internal kejaksaan, mulai muncul desas-desus.
Siapa yang mengirim? Siapa yang berani?
“Mungkinkah LSM?”
“Atau salah satu aktivis mahasiswa?”
“Jangan-jangan orang dalam DPRD sendiri yang kecewa…”
Tak ada yang tahu pasti. Tapi mereka sepakat:
Ini bukan surat biasa.
Ada tangan cerdas dan jaringan kuat di baliknya.
Koalisi Baru: Mahasiswa dan Bayangan
Setelah aksi mahasiswa usai, muncul gelombang dukungan di media sosial.
Akun-akun lokal menyebarkan tagar:
#BongkarSemuaTahun
#DPRDTanowaHarusBertanggungjawab
#PerjalananFiktifUangNyata
Petisi daring dibuat, ditandatangani ribuan.
Naskah PDF “Kerugian Negara Miliaran” kembali viral, versi baru sudah mencantumkan nama-nama yang disebut dalam rekaman.
Kejaksaan tak lagi bisa bergerak sendirian.
Sorot mata publik menekan dari segala arah.
Dan di antara mereka, tetap ada satu sosok tanpa nama
yang sejak awal, bekerja dalam diam.
Nasa menulis dalam catatan pribadinya:
“Gerakan paling berbahaya bukan yang lantang di jalan,
tapi yang senyap dan mengunci sistem dari dalam”.
Bersambung…
Penulis : Nanang Syawal



















