Bab 5
Pagi itu, udara di Tanowa terasa berat. Dari terminal Lelata, warung kopi pasar Somba, hingga grup WhatsApp alumni sekolah, satu nama kembali jadi bahan perbincangan: Nasa. Tapi kali ini bukan hanya soal keberaniannya, melainkan dokumen yang ia rilis—sebuah daftar lengkap nama-nama anggota DPRD Tanowa periode 2019–2024 yang diduga terlibat dalam perjalanan dinas fiktif (Perdis) tahun 2020-2022, saat rakyat dikurung pandemi, tapi anggaran tetap mengalir ke luar kota.
Salah satu dari nama itu kini menjabat sebagai Wakil Bupati Tanowa.
Satu lagi telah naik sebagai anggota DPRD Provinsi.
Dan satu lainnya masih bertahan sebagai Ketua DPRD aktif.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Dokumen yang disebar Nasa menyebut SPPD kegiatan luar daerah tahun 2020-2022 dengan rincian yang mengundang curiga:
Peserta kegiatan tercatat berada di dua kota berbeda pada tanggal yang sama.
Ada ASN yang sudah pensiun namun namanya masih tercantum.
Salah satu hotel tempat kegiatan berlangsung bahkan menyatakan, “tidak pernah menerima tamu dari DPRD Tanowa pada tahun tersebut.”
“Saya Hanya Menyusun Ulang Fakta yang Tercecer”
Nasa tidak menulis dengan gaya marah. Ia menyusun data dengan gaya dokumenter yang dingin dan sistematis. Justru karena itu, dampaknya menghantam keras.
“Saya hanya menyusun ulang fakta-fakta yang tercecer di meja kekuasaan. Dan saat fakta dirangkai, ceritanya jadi sangat menjijikkan.”
– Nasa
Tulisan itu menyebar cepat. Dari blog investigasi ke berbagai media sosial, lalu menyusup ke grup-grup lokal yang biasanya hanya berisi jual-beli dan undangan hajatan. Masyarakat membacanya seperti menyaksikan sebuah ledakan: pelan, tapi menyisakan kepanikan.
Kantor Dewan Bergetar
Beberapa jam setelah publikasi, pernyataan resmi keluar dari Sekretaris DPRD Tanowa:
“Semua kegiatan tahun anggaran 2020-2022 telah dilaksanakan dan dipertanggungjawabkan sesuai prosedur. Jika ada pihak yang memiliki temuan atau keberatan, kami persilakan menempuh jalur hukum atau menyampaikan kepada instansi berwenang.”
Namun di balik keterangan normatif itu, suasana di gedung DPRD berubah tegang. Beberapa staf diminta cuti tiba-tiba. Arsip-arsip fisik tahun 2020-2022 disisir ulang. Komputer bagian Administrasi diperiksa. Salah satu staf mengirim pesan anonim:
“Beberapa bendel dicabut. Bukan untuk diperiksa, tapi untuk diamankan. Kami tahu ada yang akan dijadikan tameng.”
Sementara itu, pertemuan informal mulai berlangsung. Tiga tokoh utama dalam daftar—Ketua DPRD aktif, eks Wakil Ketua yang kini memimpin eksekutif, dan mantan Wakil Ketua II—berkumpul diam-diam di rumah jabatan lama. Seorang sopir sekretariat melihat mobil mereka terparkir bersamaan, tapi tak ada yang mau berbicara.
Mereka Bilang Ini Manuver, Tapi Pilkada Sudah Selesai
Beberapa hari kemudian, salah satu ketua fraksi mengeluarkan pernyataan di radio lokal:
“Ini mungkin bagian dari manuver kelompok tertentu yang ingin mengacaukan suasana pemerintahan yang sedang berjalan baik pasca-pilkada.”
Namun publik cepat menangkap kelemahan narasi itu. Pilkada sudah selesai tahun 2024. Saat ini adalah tahun 2025. Tidak ada kontestasi. Tidak ada lawan yang ingin menjatuhkan.
Yang ada hanyalah fakta-fakta yang tak terbantahkan.
Media Ketakutan, Tapi Tidak Semua Diam
Sejumlah media lokal mulai panik. Artikel lama soal perjalanan dinas DPRD tahun 2020-2022 mulai ditarik. Jejak digital dibersihkan. Editor menghindari wawancara. Salah satu jurnalis mengaku mendapat pesan:
“Kalau media kalian tetap naikkan ini, kami pertimbangkan kerja sama publikasi tahun depan.”
Namun tidak semua jurnalis takut. Seorang reporter muda menulis tajuk pendek di portal alternatif:
“Tanpa perlu menyebut nama, kita tahu siapa yang pergi tanpa jejak tapi pulang bawa kuitansi rakyat.”
Marya: Aku Tidak Akan Diam
Malamnya, Marya kembali mengirim pesan terenkripsi kepada Nasa:
Marya:
“Mereka mulai cari tahu siapa yang kasih dokumen itu ke kamu. Aku mulai diawasi. Tapi aku tidak akan berhenti. Aku sudah terlalu lama menyaksikan permainan ini dari dekat.”
Nasa:
“Tenang. Kalau mereka takut, itu artinya kita tepat. Kita belum selesai. Kita baru mulai.”
Penulis : Nanang Syawal



















