Simfoni Tumbal dan Tersangka

- Jurnalis

Senin, 11 Agustus 2025 - 09:52 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Bab 17 

Ruang fraksi itu terasa sempit meski kursinya hanya terisi satu orang. Ketua Fraksi duduk dengan punggung sedikit membungkuk, mengetuk ujung pena ke meja yang sudah penuh coretan angka dan tanda lingkaran. Lembar daftar perjalanan dinas tergeletak di hadapannya — angka-angka hari dan biaya itu tak lagi sekadar data, tapi seperti peta ranjau yang setiap langkahnya bisa meledakkan karier siapa saja.
Dua puluh lima aleg… jika semua dijadikan tersangka, itu pembantaian politik. Jika cuma sebagian, publik akan bilang ini tebang pilih,” gumamnya, seolah bicara pada udara.
Ponselnya berdering. Nama yang muncul membuatnya menarik napas sebelum mengangkat.
Kau sibuk?” suara Wakil Bupati terdengar santai, tapi nada bawahnya penuh sinyal.
Kalau suasana begini, sibuk itu kewajiban,” jawab Ketua Fraksi.
Dengar baik. Biarkan publik ribut di luar. Kita tenang di dalam. Posisi Forkopimda melindungiku, dan kalau kau pandai, bisa melindungimu juga.”
“Aku orang partai, dan perlindungan itu tergantung arah angin politik.”
Kalau begitu, pastikan pintu ke orang-orang yang bisa menentukan ini tetap terbuka. Sisanya biar aku jalankan.”
Sambungan terputus, meninggalkan ruang sepi. Di kantor Wakil Bupati, dua orang kepercayaannya sudah menunggu.
Kita harus pilih satu-dua orang yang siap jadi tumbal. Sisanya amankan lewat kompromi,” katanya sambil membuka map tipis berisi catatan nama dan posisi.
Kalau DPRD curiga?” tanya salah satunya.
Mereka akan tahu pada waktunya. Ingat, di Forkopimda, badai hanya membasahi. Tidak menenggelamkan.”
Ketua Fraksi sore itu melangkah keluar dari sebuah gedung yang terlalu sunyi untuk ukuran jam kerja. Pertemuan yang ia rencanakan dengan seseorang — yang tidak pernah menyebut jabatannya, tapi aura otoritasnya terasa bahkan dalam tatapan — berakhir dingin. Tidak ada janji, tidak ada komitmen. Hanya pesan samar: Jangan bawa ini ke saya lagi.
Pesan singkat masuk di ponselnya.

“Kau saja yang urus. Aku tak mau ikut tenggelam.”
Ketua Fraksi menatap layar itu lama. Retakan di DPRD sudah mulai menganga.
Di lantai dua Mapolres, ruang rapat tertutup rapat. Kapolres duduk di ujung meja, wajahnya tenang tapi sorot matanya menusuk. Kasat Intelkam — perawakan sedang, agak kurus, gerak matanya cepat — membuka map berisi foto dan catatan.
Jika pengumuman tersangka dilakukan serentak, potensi gesekan tinggi. Kubu yang merasa jadi tumbal akan balas menyerang lewat media dan mobilisasi massa,” ucapnya.
Kanit Kamneg — lumayan tinggi, agak kurus, rambut beruban hingga ke jenggot yang sebagian diwarnai — menyambung.
Saya lebih dari sekadar memantau. Saya pernah beberapa kali terjebak pergerakan Nasa. Dia itu memancing kita bereaksi ke satu arah, lalu mengeksekusi rencana sebenarnya dari arah lain. Jika DPRD tahu mereka jadi target, Nasa akan mengatur opini publik supaya Kejaksaan tak bisa mundur, bahkan sebelum surat panggilan keluar.”
Kanit Ekonomi — tinggi besar, napasnya berat — menyandarkan lengan di meja.
Dari sisi ekonomi-politik, mereka punya senjata yang halus tapi mematikan. DPRD bisa menunda pembahasan APBD Perubahan. Akibatnya, gaji ASN bisa tertahan, tunjangan molor, dan tenaga kontrak — baik yang masuk database maupun yang tidak — berbulan-bulan tak dibayar. Proyek prioritas yang butuh persetujuan bersama bisa terhenti, belanja modal macet. Swasta yang bergantung pada proyek pemerintah akan menahan modalnya. Pasar akan bereaksi: barang ditahan, harga naik, dan suasana ketidakpastian ini akan mereka gunakan untuk mengarahkan amarah publik ke eksekutif.
Saya juga pernah beberapa kali terjebak membaca pola Nasa. Dia pandai memanfaatkan kekacauan seperti ini untuk membentuk narasi yang memojokkan lawannya.”
Kanit Politik mengangkat kepala.
Jika tersangka diumumkan bergelombang, isu ini bisa hidup sampai akhir tahun. Efeknya ke partai besar sangat terasa. Jika serentak, efeknya cepat tapi bisa memicu balasan yang keras.”
Kapolres merapatkan jemarinya di meja.
Baik. Kita siapkan dua skenario pengamanan. Jangan sampai kita reaktif. Kita harus sudah berada selangkah di depan.”
Di Kodim, ruang tanpa papan nama di ujung koridor itu berbau tembakau dan kopi hitam yang pekat. Pasi Intel duduk di kursi kayu yang warnanya mulai pudar, berhadapan dengan pria berwajah tenang tapi matanya awas. Mereka tidak menyebut nama, hanya berbicara lewat potongan kalimat.

Jika penetapan tersangka serentak, titik rawan ada di tiga lokasi: gedung DPRD, kantor penegak hukum, dan rumah pribadi aleg tertentu. Masing-masing titik punya kelompok pendukung yang siap bertindak,” ujar Pasi Intel sambil mengetuk puntung rokok di asbak.
Pria itu mengangguk pelan. “Kami butuh kalian di lingkar luar. Tidak terlalu dekat, supaya tak terkesan intimidasi, tapi cukup untuk membaca situasi sebelum meledak.”
Bermain di bayangan itu kebiasaan kami,” jawab Pasi Intel.
Senyum tipis muncul di wajah pria itu — senyum yang lebih terasa seperti isyarat peringatan.
Di rumahnya, Nasa duduk di kursi rotan tua, di hadapannya meja penuh catatan. Sebelah kanan ada segelas kopi dark dari Kedai Pororo, pekat nyaris hitam, aromanya menusuk hidung. Di kiri, asbak dengan tiga batang Surya 16 yang tinggal separuh. Sebotol air minum 1 liter sudah terbuka, meneteskan embun dingin di permukaannya.
Nama-nama aleg dan staf sekretariat ia kelompokkan: siapa yang terlibat langsung, siapa yang hanya menandatangani, siapa yang berperan mengamankan administrasi. Di kepalanya, garis-garis hubungan mulai tersambung membentuk peta yang jelas.

Baca Juga :  Menunggu Langkah Selanjutnya

Sekretariat dan aleg itu simbiosis,” monolognya pelan. “Aleg butuh sekretariat untuk memoles dokumen, membuat laporan fiktif jadi rapi. Sekretariat butuh aleg untuk melindungi posisinya, memberi ruang bermain di anggaran. Keduanya salah, keduanya saling menutup. Dan jika satu jatuh, yang lain ikut terseret.”
Nasa menyalakan rokok lagi, menghisap perlahan sambil menatap hujan yang mulai deras.
Eksekutif akan coba tawar-menawar tumbal, legislatif akan mainkan isu martabat, Polres siapkan pengamanan dua lapis, Kodim bergerak di pinggir bayangan, Kejaksaan tunggu momen paling tepat. Mereka pikir aku hanya mengamati. Padahal aku sudah dua langkah di depan.”
Ia menyentuh buku catatan, membuka halaman yang penuh panah-panah kecil.
Langkah pertama, serang opini publik tepat sebelum pengumuman. Langkah kedua, pecah kesolidan DPRD dari dalam. Dan jika perlu, langkah ketiga — buka kotak rahasia yang membuat semua pihak saling curiga. Saat itu, penetapan tersangka bukan lagi ujung permainan… tapi awal dari kekacauan yang mereka ciptakan sendiri.”
Di sudut meja, kopi dari Kedai Setengah Kopi menunggu giliran disesap. Nasa memindahkan pandangannya ke cangkir itu, tersenyum tipis.
Badai ini milikku, dan mereka bahkan belum sadar sedang berdiri di tengahnya.”

Penulis : Nanang Syawal

Berita Terkait

Hakim Bernurani vs Birokrasi Penuntutan: Menyelamatkan Pidana Pengawasan di Era KUHP Baru
Kursi Sekda dan Rekam Jejak Kegagalan Sektor Pertanian di Boalemo
Gandeng Rusli Habibie, Wabup Boalemo Serahkan Proposal Infrastruktur ke Pimpinan Komisi V DPR RI
Petugas Kebersihan Belum Terima Hak, BKAD “Pesta Pora”, Bupati dan DPRD Kemana?
Pemandangan “Estetik” Pasca Kunjungan Pejabat: Karpet Sampah di Bawah Lampu Megah
Ironi Roda Dua di Boalemo: Fasilitas PAUD Pincang, Anggaran Dikbud ‘Dipaksa’ Wabup untuk Motor Pramuka?
Konspirasi Bayangan
Isu di Atas Meja

Berita Terkait

Selasa, 5 Mei 2026 - 19:04 WITA

Hakim Bernurani vs Birokrasi Penuntutan: Menyelamatkan Pidana Pengawasan di Era KUHP Baru

Selasa, 21 April 2026 - 15:30 WITA

Kursi Sekda dan Rekam Jejak Kegagalan Sektor Pertanian di Boalemo

Rabu, 8 April 2026 - 17:59 WITA

Gandeng Rusli Habibie, Wabup Boalemo Serahkan Proposal Infrastruktur ke Pimpinan Komisi V DPR RI

Minggu, 19 Oktober 2025 - 16:58 WITA

Petugas Kebersihan Belum Terima Hak, BKAD “Pesta Pora”, Bupati dan DPRD Kemana?

Kamis, 16 Oktober 2025 - 01:00 WITA

Pemandangan “Estetik” Pasca Kunjungan Pejabat: Karpet Sampah di Bawah Lampu Megah

Berita Terbaru