Pembuktian Terbalik

- Jurnalis

Jumat, 8 Agustus 2025 - 22:41 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Bab 6 

Dari 25 anggota DPRD Tanowa periode 2019–2024 yang terlibat dalam perjalanan dinas fiktif tahun 2020-2022, hanya 12 orang yang terpilih kembali di Pemilu 2024.

Ironinya?
Justru dari ke-12 yang kembali duduk itulah kini terdengar paling nyaring suara tentang “transparansi”, “reformasi anggaran”, dan “penguatan lembaga pengawasan.”

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Sudah saatnya kita membongkar masa lalu dan membuka lembaran baru dengan komitmen pada keterbukaan informasi,”
kata salah satu anggota dewan dalam rapat paripurna bulan Mei 2025.
Suaranya lantang. Tapi namanya ada di dokumen SPPD Perdis yang kini beredar luas.

Yang Kembali Duduk, Tapi Tak Pernah Minta Maaf

Sebagian dari mereka bahkan membentuk tim kecil yang disebut “Aliansi Etika Parlemen.” Tujuannya: mengawal integritas DPRD di periode baru.

Namun publik tak mudah lupa.
Nama-nama dalam dokumen SPPD 2020 sudah beredar di berbagai kanal. Beberapa aktivis bahkan membuat daftar silang: mencocokkan nama yang terpilih kembali dengan jumlah hari perjalanan dinas fiktif yang tercantum.

Baca Juga :  Kursi Sekda dan Rekam Jejak Kegagalan Sektor Pertanian di Boalemo

Kalau benar mereka ingin transparansi, mengapa tidak dimulai dari diri sendiri? Kenapa tidak satu pun dari mereka minta maaf atas anggaran yang disedot di masa pandemi?”

– komentar seorang warga di forum publik Tanowa.

Kejari Jadi Rebutan Pujian

Saat Kejaksaan Negeri Tanowa mulai memanggil saksi-saksi dari sekretariat dewan, suasana berubah.

Mereka yang dulu pasif kini tiba-tiba rajin datang ke kantor Kejari, mengantar dokumen, memberi pernyataan siap diperiksa, bahkan mengajak ngopi penyidik.

Kami sangat mendukung proses penegakan hukum ini. Kami tidak ingin lembaga ini terus dicemari oleh ulah segelintir orang di masa lalu.”
– Ucapan aleg yang tercantum tiga kali dalam SPPD ganda.

Tak sedikit pula yang saling lempar tanggung jawab. Ada yang menyalahkan sekretariat karena menyiapkan dokumen. Ada yang menyalahkan ketua fraksi. Bahkan ada yang menyalahkan staf hotel.

Satu aleg malah mengatakan:

Saya ikut kegiatan itu, tapi tidak tahu kalau anggarannya fiktif. Saya kira semua sudah sesuai prosedur.”

Ujian Etik atau Ujian Mental?

Baca Juga :  Mobil Baru untuk Kejati, BPJS Menunggak dan Petani Menunggu: Di Mana Prioritas Pemda?

Dari luar, seolah Tanowa sedang menjalani perbaikan sistemik. Tapi dari dalam, mekanisme pembuktian terbalik sedang dimainkan:
Bukan mereka yang harus membuktikan tidak bersalah, tapi publik yang dipaksa membuktikan bahwa mereka bersalah.

Kami tantang siapa pun yang menuduh, buktikan di pengadilan.”

Tentu, dalam dunia hukum, itu terdengar adil. Tapi dalam dunia etika politik, itu adalah siasat mengulur waktu dan mencuci muka.

Marya Tak Percaya Air Mata Mereka

Di sebuah rumah kecil di Desa Matumba, Nasa menatap layar laptop. Ia melihat cuplikan siaran paripurna, di mana para aleg bersorak mendukung program reformasi anggaran.

Ia terdiam.
Lalu mencetak satu dokumen baru.

Di header-nya tertulis:
Analisis Penyesuaian Anggaran SPPD DPRD Tanowa Tahun 2020-2022: Fakta atau Fiksi?”

Ia tahu, tahap ini akan lebih berat.
Bukan lagi soal membongkar dokumen, tapi menghadapi aktor-aktor lama yang kini memakai topeng baru.

Bersambung…

Penulis : Nanang Syawal

Berita Terkait

Mobil Baru untuk Kejati, BPJS Menunggak dan Petani Menunggu: Di Mana Prioritas Pemda?
Pemda Boalemo dan Kejati Gorontalo Ugal-ugalan?: Antara Perencanaan yang Gagal dan Dugaan Peminjaman Ilegal
Menakar Etika dan Independensi: Ujian Transparansi di Balik Peminjaman Kendaraan Dinas Pemda oleh Kejati
Rapor Merah PAHAM: Janji Pembangunan, Utang BPJS, dan Sejumlah Persoalan yang Belum Tuntas
Sekda dan Krisis Plasma Sawit: Diam, Mengawasi, atau Membiarkan?
Menggugat Gurita “Kepala BKAD instan”, Ketika Jabatan Batal tapi Dokumen Keuangan Tetap Jalan?
Hakim Bernurani vs Birokrasi Penuntutan: Menyelamatkan Pidana Pengawasan di Era KUHP Baru
Kursi Sekda dan Rekam Jejak Kegagalan Sektor Pertanian di Boalemo

Berita Terkait

Jumat, 26 Juni 2026 - 05:56 WITA

Mobil Baru untuk Kejati, BPJS Menunggak dan Petani Menunggu: Di Mana Prioritas Pemda?

Rabu, 24 Juni 2026 - 18:31 WITA

Menakar Etika dan Independensi: Ujian Transparansi di Balik Peminjaman Kendaraan Dinas Pemda oleh Kejati

Minggu, 14 Juni 2026 - 16:15 WITA

Rapor Merah PAHAM: Janji Pembangunan, Utang BPJS, dan Sejumlah Persoalan yang Belum Tuntas

Rabu, 27 Mei 2026 - 21:06 WITA

Sekda dan Krisis Plasma Sawit: Diam, Mengawasi, atau Membiarkan?

Senin, 18 Mei 2026 - 18:55 WITA

Menggugat Gurita “Kepala BKAD instan”, Ketika Jabatan Batal tapi Dokumen Keuangan Tetap Jalan?

Berita Terbaru