Bab 16
Hujan di Tanowa belum reda sejak kemarin.
Di gedung DPRD yang bergaya setengah kolonial itu, air menetes dari sudut plafon, mengisi ember biru di koridor lantai dua.
Namun, di ruang rapat Ketua Fraksi, suasana justru terasa lebih panas daripada di luar.
Meja kayu panjang di tengah ruangan penuh tumpukan map, draf APBD Perubahan, dan secangkir kopi yang sudah dingin.
Ketua Fraksi duduk di ujung, membolak-balik lembaran anggaran seperti membaca kitab lama yang penuh rahasia.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Lihat ini…” ujarnya sambil menunjuk satu baris. “Seminar budaya… tujuh ratus sembilan puluh juta. Tidak ada di APBD murni. Sekarang tiba-tiba nongol di pembahasan perubahan. Kau pikir orang luar nggak akan gigit ini?”.
Dua anggota yang duduk di dekatnya saling pandang. “Kalau ini keluar ke publik, eksekutif bisa kena…”
“Bukan ‘bisa’. Pasti,” potong Ketua Fraksi. Senyumnya tipis, bukan senyum ramah—lebih mirip senyum tukang jagal yang sudah memilih kambing di pasar.
Ia mengambil map lain. “Ini… pengadaan motor di bidang guru PAUD, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan. Jumlahnya tidak besar, tapi kalau benar dialihkan ke Pramuka? Ah… ini bisa jadi peluru”.
Pintu diketuk. Ketua DPRD masuk tanpa banyak bicara.
Ia mendekat, melihat dokumen di meja. “Kau mau bawa ini keluar?”
Ketua Fraksi bersandar di kursi. “Kita tidak perlu membocorkan sendiri. Cukup memberi arah pada orang yang tepat… mereka akan mengangkatnya”.
Ketua DPRD duduk. “Kalau begitu, kita pastikan arahnya tidak balik ke kita”.
Ketua Fraksi mencondongkan badan. “Tenang. Ini tidak ada tanda tangan kita. Semua inisiatif eksekutif. Kita hanya… membacakan apa yang sudah mereka tulis sendiri”.
Ketua DPRD terdiam beberapa detik, lalu mengangguk pelan. “Kalau begitu, jalan. Tapi jangan lupa—Wabup harus tahu”.
Sore harinya, di sebuah rumah bergaya minimalis di pinggir kota, Wakil Bupati duduk di teras dengan secangkir teh panas.
Ketua Fraksi datang, membawa dua map tebal.
“Angin dari utara makin kencang,” ujar Ketua Fraksi sambil meletakkan map di meja.
Wabup membukanya, membaca cepat.
“Seminar budaya. Motor PAUD. Hmmm…” ia tersenyum samar. “Kau memang tahu caranya memancing orang lapar.”
“Kita butuh isu baru. Perjalanan dinas sudah terlalu bising. Bupati mulai dapat simpati. Kalau kita geser sorotan, ia akan sibuk menangkis serangan lain.”
Wabup menatapnya lekat-lekat. “Kau tidak hanya menggeser sorotan. Kau sedang mengatur papan catur.”
“Dan kau…,” jawab Ketua Fraksi, “adalah pemain yang tahu kapan harus mengorbankan bidak.”
Keduanya tertawa pendek, seperti dua orang yang sedang membicarakan hal kecil—padahal di luar sana, dua isu itu akan mengalir ke wartawan, aktivis, bahkan meja kejaksaan… dengan cara yang sulit dilacak asalnya.
Penulis : Nanang Syawal
Editor : Redaksi



















