Bab 14
Tanowa seperti kota yang menahan napas. Pasar tetap berteriak dengan tawar-menawar, motor tetap berderu di jalan, namun di mata orang-orang ada sesuatu yang mereka simpan—sebuah rahasia yang terlalu berat untuk dibagi. Kota ini tak lagi hanya menjadi tempat tinggal; ia telah menjadi panggung. Semua aktor sudah berdandan, semua penonton diam… dan semua sadar mereka sedang diperhatikan.
Malam itu, hujan tipis jatuh seperti jarum, menusuk hingga tulang. Nasa duduk di meja kayu mungil sebuah kedai kopi pinggir jalan. Di hadapannya tergeletak sebuah amplop tebal. Lima puluh juta rupiah—uang tunai yang diikat karet, dengan bau logam dan debu yang menusuk hidung. Bau yang, bagi sebagian orang, adalah aroma kemerdekaan; bagi sebagian lainnya, aroma pengkhianatan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Teleponnya bergetar. Satu pesan masuk:
“Terima, dan kita tutup lembar ini. Ini dari satu orang. Kau tahu sendiri, masih banyak yang bisa ikut.”
Nasa menatap layar, lalu menulis balasan… menghapusnya. Menulis lagi… menghapus lagi. Jemarinya terasa seperti batu. Uang memang punya bahasa, tapi malam itu ia memilih tuli.
Akhirnya, ia menekan tombol off.
Ia bergumam pelan, nyaris hanya untuk dirinya sendiri:
“Kalau kebenaran bisa dibeli, maka kebenaran hanyalah mata uang lain. Dan aku tak mau jadi pedagangnya”.
Di sudut ruangan yang remang, empat anggota DPRD duduk melingkar. Asap rokok mereka membentuk tirai tipis, menutupi wajah-wajah yang pucat namun penuh kalkulasi.
Ketua Komisi: “Semua yang namanya disebut harus kompak. Satu yang goyah, semua tenggelam”.
(Kompak, kata mereka. Padahal yang mereka maksud adalah tenggelam bersama-sama—seperti kawanan tikus di kapal bocor.)
Ketua DPRD: “Nasa itu keras kepala. Duit segitu cuma bikin dia tambah gila di tulisannya. Dia menukar delapan belas miliar, bukan untuk dirinya. Dia bukan tipe yang bisa dibeli”.
(Kalimat ini diucapkan seperti pujian, tapi nadanya adalah ancaman. Orang yang tak bisa dibeli, harus dihancurkan).
Ketua Fraksi: “Makanya kita main kolektif. Dia nggak bisa perang sama kita semua… kecuali Kejaksaan pasang badan buat dia”.
(Dan Kejaksaan, pikir mereka, hanyalah hewan liar yang bisa dijinakkan dengan daging segar. Betapa salahnya mereka.)
Anggota: “Kalau Kejaksaan ikut masuk… kita habis.”
(Kata “habis” itu melayang di udara, menggantung seperti bau darah yang mengundang serigala.)
Di ruang kecil tanpa papan nama, dua jaksa senior menatap tumpukan map. Lampu kuning membuat wajah mereka seperti topeng.
Jaksa Pidsus: “Nama-nama ini sudah lengkap. Tinggal tunggu momen.”
Jaksa Intel: “Jangan buru-buru. Mereka sudah curiga sejak Nasa buka mulut. Kita buat jalurnya banyak… bocor sedikit demi sedikit.”
Jaksa Pidsus: “Kita biarkan mereka merasa aman?”
Jaksa Intel: “Kepercayaan diri adalah racun paling manis. Biarkan mereka meneguknya sampai lupa cara mendarat.”
Keesokan harinya, rapat internal DPRD berubah jadi arena tinju kata. Mikrofon digeser kasar, meja diketuk seperti pintu neraka.
Ketua Fraksi: “Kalau sorotan tetap di kita, habis. Arahkan ke Bupati. Videotron itu kuncinya.”
Wakil Ketua: “Benar. Proyek itu nggak ada di APBD.”
Ketua DPRD: “Ibarat kopi dan rokok—korupsi dan pengalihan isu selalu saling menemani.”
Di luar, seorang staf DPRD yang kebetulan mendengar percakapan itu mengirim pesan singkat ke seorang kenalan di Kejaksaan:
“Mereka mulai lempar bola ke Videotron.”
Di rumah kontrakan kumuh di Jakarta Timur, tiga aktivis duduk di lantai, dikelilingi spanduk, cat semprot, dan laptop yang layarnya penuh tab berita.
Walid: “Narasi ini harus kita dorong ke mahasiswa. Demo minggu depan di KPK, spanduknya bawa wajah bupati. Hubungi donatur”.
Didi: “Donatur lagi di Jakarta, lobi supaya Kejaksaan ditekan”.
Walid: “Bagus. Kadang api tak perlu besar—cukup bara di tangan yang tepat”.
Di kedai kopi dekat terminal tua, dua wartawan senior menatap berkas lama.
Herdi: “Aku mau tanya Wabup soal kredit macet 2016. Luka lama itu selalu gatal”.
Esar: “Kau mau bikin dia hilang kendali? Perdin fiktif lagi panas, kau seret lagi masa lalunya.”
Telepon Herdi berdering. Nama Wakil Bupati muncul di layar.
“Saya masih di Jakarta. Nanti kalau sudah balik, kita ketemu”.
Di meja lain, tiga wartawan muda bicara seperti orang yang sedang mengucapkan sumpah.
Rahman: “DPRD pikir kita cuma tukang foto? Mereka lupa siapa yang menulis sejarahnya.”
Eki: “Kalau bukan kita, kasus perdin itu sudah mati.”
Dewa: “Kalau Kejaksaan bergerak, aku akan liput dari awal sampai borgol terakhir terpasang.”
Mata mereka menyala—bukan cahaya lampu, tapi api yang terlalu lama dipendam.
Tanowa belum meledak… tapi semua orang kini memegang sumbu.
Di kejauhan, azan Isya berkumandang. Malam menebal, menutup kota seperti selimut basah.
Nasa mengetik status WhatsApp:
> “Orang-orang mulai belajar membedakan jasa dan dendam.”
—
Penulis : Nanang Syawal
Editor : Redaksi



















