Oleh: Nanang Syawal
Trilogis.id (Boalemo) — (Di Boalemo, suara kebenaran sering kali dianggap gaduh. Bukan karena ia salah, tapi karena ada yang tak nyaman melihat pantulan wajahnya sendiri di cermin bernama aktivis dan media.)
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Beberapa hari terakhir, publik disuguhi ajakan “meredam polemik” demi rukun dan pembangunan. Kata itu diulang-ulang seolah semua keributan datang dari para aktivis dan media.
Padahal, kita tahu sumber kegaduhan sesungguhnya bukan dari mikrofon orator atau berita online, melainkan dari dokumen resmi negara — LHP BPK yang mencatat pertanggungjawaban perjalanan dinas DPRD Boalemo TA 2022 senilai ratusan juta tidak sesuai ketentuan.
Itu bukan desas-desus di warung kopi. Itu fakta audit negara yang tak bisa dihapus oleh pidato atau konferensi pers.
Alih-alih menjawab substansi temuan BPK, yang disorot justru para pembawa kabar. Aktivis, jurnalis, dan media dianggap biang masalah. Seperti rumah yang terbakar, yang dimarahi bukan pembakar rumahnya, tapi orang yang berteriak “api!”.
Narasi “jangan gaduh” adalah senjata lama. Ia dipakai untuk memindahkan sorotan publik dari dugaan korupsi menuju isu persatuan semu.
Saya percaya rukun itu penting. Tapi rukun bukan berarti membiarkan api membakar rumah demi suasana tenang.Kita bisa berbeda pendapat soal cara membangun, tapi kita tak bisa berbeda tentang kejujuran. Kejujuran adalah pondasi pembangunan, bukan musuhnya.
Yang benci cermin biasanya punya wajah yang tak ingin ia lihat sendiri. Kami para aktivis dan jurnalis hanyalah cermin. Jika pantulan di dalamnya membuat seseorang gerah, itu bukan salah cerminnya.
Jangan salahkan rakyat karena ingin tahu ke mana uang mereka pergi. Jangan tuduh media sebagai penghambat pembangunan hanya karena mereka bertanya soal perjalanan dinas yang jejak kakinya saja tak pernah menapaki tanah yang dilaporkan.
Rukun itu perlu, pembangunan itu wajib. Tapi tanpa keberanian membersihkan tangan dari uang rakyat, ajakan rukun hanyalah musik pengantar tidur di telinga yang lapar.
Pertanyaannya; apakah yang kita sebut “polemik” ini benar-benar merugikan rakyat, atau justru kritik yang sedang menyelamatkan uang rakyat?
Penulis : Nanang Syawal
Editor : Redaksi

















