Trilogis.id_(Boalemo) — Pepatah “sudah jatuh tertimpa tangga” tampaknya layak disematkan kepada Ama, salah seorang tenaga kesehatan (nakes) di Rumah Sakit Iwan Bokings (RSIB) Kabupaten Boalemo. Tidak tahu menahu, tidak terlibat persoalan apapun, namun kini ia harus menanggung risiko kehilangan pekerjaannya.
Sebelumnya, Ama dikabarkan mengalami intimidasi dari seorang ASN berinisial Y, yang diketahui merupakan anak Bupati Boalemo terpilih. Tidak hanya dihardik, Ama bahkan mendapat ancaman akan dikeluarkan dari rumah sakit tempatnya bekerja.
Konfirmasi pihak manajemen RSIB menguatkan kabar tersebut. Melalui sambungan telepon pada Rabu (20/8/2025), Albert, salah seorang pejabat RSIB, membenarkan bahwa Ama untuk sementara diberhentikan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Iya benar. Saat ini Ama belum masuk lagi karena diberhentikan sementara,” ujarnya singkat.
Rekaman Intimidasi Beredar
Berdasarkan rekaman berdurasi 30 menit 24 detik yang diperoleh Trilogis.id, terdengar jelas Y memarahi bahkan mengancam Ama.
Dalam percakapan itu, Y mengklaim bahwa keberadaan Ama di RSIB ada berkat dirinya, bahkan menyebut rumah sakit tersebut berdiri karena ayahnya, Rum Pagau, yang kini terpilih sebagai Bupati Boalemo.
“Ngana tau sapa yang bangun ini rumah sakit? Baru ngana masih ada muka mo bakarja disini?” demikian potongan ucapan Y dalam rekaman tersebut.
Tidak berhenti di situ, Y yang juga dikenal sebagai istri salah satu anggota DPRD Boalemo sekaligus Wakil Ketua II, menuding Ama tidak “tahu diri”.
Potret Ketidakadilan
Kasus ini bukan hanya soal hubungan personal antara seorang tenaga kesehatan dengan keluarga pejabat daerah.
Lebih jauh, peristiwa ini memperlihatkan bagaimana relasi kuasa kerap dimanfaatkan untuk menekan pihak yang lebih lemah.
Seorang anak pejabat daerah seharusnya mencerminkan etika publik yang baik, bukan justru menggunakan posisi keluarga untuk mengintimidasi tenaga kesehatan.
Rumah sakit adalah fasilitas umum yang dibangun dari uang rakyat, bukan milik pribadi, apalagi untuk dijadikan alat menyingkirkan orang yang tidak disukai.
Menunggu Sikap Tegas Manajemen
Hingga kini, belum ada keterangan resmi lebih lanjut dari manajemen RSIB terkait status akhir Ama, apakah pemberhentian tersebut bersifat administratif semata atau ada tekanan eksternal yang memengaruhi keputusan itu.
Kasus Ama membuka mata publik bahwa praktik intimidasi dengan memanfaatkan kedekatan kekuasaan masih menjadi problem serius di daerah.
Publik kini menunggu langkah tegas pihak rumah sakit, pemerintah daerah, maupun DPRD, agar kasus serupa tidak terus berulang dan menambah daftar panjang ketidakadilan bagi tenaga kesehatan maupun pekerja lainnya.



















