Trilogis.id_(Boalemo) — Di tengah euforia peluncuran Program Sapi Kembar yang disebut sebagai “terobosan cerdas” oleh Pemerintah Kabupaten Boalemo, suara kritis dari sektor lain, khususnya nelayan, mulai terdengar nyaring.
Program yang digagas oleh Bupati Rum Pagau ini memang berhasil menuai pujian karena dinilai tepat sasaran dan efisien, namun ironisnya, persoalan mendasar yang dihadapi para nelayan justru terabaikan.
Seorang nelayan yang juga seorang pengusaha perikanan lokal mengungkapkan kekecewaannya. Ia membenarkan bahwa terobosan di bidang pertanian dan peternakan sangat diharapkan, namun hal itu tidak bisa menutupi fakta bahwa sektor perikanan sedang tercekik. Ia menyoroti masalah utama yang dihadapi nelayan saat ini, yaitu ketersediaan bahan bakar solar.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Saya selaku pengusaha yang berdiri di bidang perikanan, sangat-sangat mengharapkan kepada Pemda, agar kiranya dapat memperhatikan sekaligus bisa menganggarkan apa yang menjadi kekurangan pompa minyak yang ada di pelelangan Tilamuta, karena sekarang ini para pengusaha kapal lagi dipusingkan dengan bahan bakar solar untuk melaut,” ujarnya.
Masalah ini diperparah dengan aturan yang membatasi nelayan. Ia menjelaskan bahwa kapal-kapal di atas 30 GT (Gross Tonnage) yang seharusnya memiliki kapasitas tangkapan lebih besar, justru tidak mendapatkan rekomendasi dari dinas perikanan maupun UPTD. Rekomendasi hanya diberikan kepada kapal-kapal dengan GT 30 ke bawah, yang jumlahnya mayoritas di Boalemo.
Keterbatasan solar ditambah dengan peraturan yang menghambat membuat para pengusaha kapal kelimpungan. Mereka menghadapi dua masalah sekaligus: keterbatasan bahan bakar dan sulitnya mendapatkan rekomendasi untuk kapal besar.
Situasi ini menimbulkan pertanyaan besar tentang prioritas pembangunan di Kabupaten Boalemo. Di satu sisi, pemerintah sukses menunjukkan keberpihakan pada sektor peternakan melalui program Sapi Kembar.
Namun di sisi lain, sektor perikanan yang menjadi mata pencaharian utama banyak masyarakat justru menghadapi kendala yang belum terpecahkan. Keberhasilan di satu sektor tidak seharusnya mengaburkan persoalan krusial di sektor lainnya, terutama bagi nelayan yang menjadi salah satu pilar ekonomi daerah.



















