Mahasiswa “Gagap Teknologi” Kritik Ujian di IAIN Sultan Amai Gorontalo

- Jurnalis

Selasa, 2 Februari 2021 - 08:57 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh : Ardin Batawea

( Mantan Ketua Senat IAIN Sultan Amai Gorontalo 2019-2020)

Trilogis (Tajuk) – Mari kita memulainya dengan kisah populer tentang Buya Hamka. Ulama terkenal asal Sumatera sekaligus Ketua MUI pertama di Indonesia;

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Suatu ketika seseorang bersilaturrahmi ke Buya Hamka, lalu mengatakan “Pelacur di Arab itu memakai cadar dan hijab.” Dan tidak terduga Buya Hamka menjawab, “Oh, ya? Saya barusan dari Los Angeles dan New York, Masya Allah, ternyata di sana tidak ada pelacur. “Ah, mana mungkin Buya, di Makkah saja ada, kok. Apalagi di Amerika, pasti lebih banyak lagi,” Kata orang tersebut. Lalu, Buya Hamka kembali menanggapi, “Kita ini memang hanya akan dipertemukan dengan apa-apa yang kita cari. Meskipun kita ke Makkah tetapi jika yang diburu oleh ahati adalah hal-hal yang buruk, maka setan dari golongan jin dan manusia akan berusaha membantu kita untuk mendapatkannya. Tetapi, sebaliknya, sejauh perjalanan ke New York, Los Angeles, bila yang dicari adalah kebajikan dan kebaikan, maka segala kejelekan akan enggan dan bersembunyi,” tutup Buya Hamka.

Baru-baru ini, berita dengan judul “Unik, Ujian Akhir Semester Mata Kuliah Dosen Minta Ujian Tik Tok” yang dimuat oleh media online matabmr.id tertanggal 2 Februari 2021, sontak membuat kaget jajaran civitas akademika IAIN Sultan Amai Gorontalo, khususnya bagi kalangan dosen.

Baca Juga :  Jejak yang Disembunyikan: Operasi Senyap di Tanowa

Secara pribadi, kekagetan setelah membaca berita yang dimuat oleh matabmr.id, membuat saya langsung mencari tahu kebenaran berita tersebut. Tak ayal, selain bertanya langsung kepada mahasiswa yang termasuk dalam pembuatan tugas membuat video lewat aplikasi Tiktok, yaitu kelas Hukum Tata Negara di Fakultas Syariah IAIN Sultan Amai Gorontalo, saya juga melihat video-video tugas yang diupload di Instagram.

Sebenarnya tidak ada yang aneh dengan tugas membuat video Tiktok yang dibebankan kepada mahasiswa. Apalagi dengan melihat video-video yang telah di upload di Instagram. Ditambah lagi, saat saya bertanya ke salah satu mahasiswa perihal tugas tersebut, mereka hampir tidak ada yang melakukan protes. Yang aneh, ya ‘pemberitaan sepihak’ yang dimuat oleh matabmr dan komentar dari Nazir Dunggio dalam berita tersebut.

Sebelum saya mengulas lebih jauh, keanehan pertama adalah keanehan yang tidak masuk dalam substansi masalah, yaitu penulisan komentar Nazir pada paragraf ke lima di berita tersebut, “Namun kata Nazir, ini berbeda dengan Universitas IAIN Sultan Amai Gorontalo”. Universitas IAIN Sultan Amai Gorontalo? Entah siapa yang salah di sini, apakah penulis berita yang tidak paham kaidah penulisan atau, Nazir yang merupakan mahasiswa IAIN Sultan Amai (katanya). Kalau misalnya Nazir yang katanya mahasiswa IAIN Sultan Amai itu, tentunya merupakan kesalahan yang sangat fatal, baik itu berkaitan dengan statusnya sebagai mahasiswa IAIN Sultan Amai, atau pun dalam kapasitasnya sebagai seorang mahasiswa. Sebab, sejak kapan Universitas bergandengan nama dengan Institute? Sumpah, menulis ini saya ingin ketawa, tapi takut dosaa.

Kedua, secara pribadi saya tetap mengapresiasi saran yang dilontarkan oleh Nazir untuk membuat Vlog Youtube dari pada Tiktok dengan alasan yang disampaikan. Tetapi, pada posisinya sebagai orang yang menyandang status mahasiswa, seharus Nazir tidak ‘gagap’ dalam perkembangan tekhnologi. Karena, sejak Covid-19 ditetapkan sebagai pandemi, sudah banyak yang membuat video-video kreatif baik itu diupload di Tiktok atau aplikasi lainnya.

Baca Juga :  Bersama Kementan, Pemda Boalemo data Kembali Perkebunan Sawit

Alhasil, saya jadi curiga, Nazir yang mengomentari pembuatan tugas untuk diupload di Tiktok tidak bermanfaat sama sekali kepada mahasiswa, karena lebih sering melihat video-video yang tidak bermanfaat di Tiktok, bukan video-video dengan kontennya yang bersifat edukasi. Takutnya, semoga “kegoblokan ” atas pemanfaatan sesuatu ke arah yang lebih positif seperti itu tidak menjamur di kalangan civitas akademika IAIN Sultan Amai Gorontalo.

Tulisan ini dipertanggungjawabkan sepenuhnya oleh Penulis

Berita Terkait

Dikbud Boalemo Raih Tiga Penghargaan Mutu Pendidikan dari BPMP Gorontalo
100 Siswa Az-Zahra Boalemo Dibentuk Jadi ‘Benteng’ Anti-Bullying Lewat Outbound Kids
Ikbal Ka’u: Menolak Lupa, Pemerintah Jangan Jadi Corong Perusahaan yang Menindas Rakyat
Penyesuaian ASN Jadi Sorotan dalam Paripurna RAPBD 2026
Hadiah untuk Masa Kecil dari Dikbud untuk PAUD di Boalemo
Fraksi Demokrat Dorong Perda Tanggung Jawab Sosial dan Perda Pertambangan
“Agak Lain”, Hardi Mopangga Serap Aspirasi Langsung di Lapangan, Pastikan OPD Tindaklanjuti Keluhan Warga
Dukung Penetapan RTRW, FD: Tegaskan Kawasan Tambang Harus Selektif dan Berkelanjutan
Tag :

Berita Terkait

Jumat, 12 Desember 2025 - 15:18 WITA

Dikbud Boalemo Raih Tiga Penghargaan Mutu Pendidikan dari BPMP Gorontalo

Sabtu, 6 Desember 2025 - 20:42 WITA

100 Siswa Az-Zahra Boalemo Dibentuk Jadi ‘Benteng’ Anti-Bullying Lewat Outbound Kids

Kamis, 4 Desember 2025 - 17:18 WITA

Ikbal Ka’u: Menolak Lupa, Pemerintah Jangan Jadi Corong Perusahaan yang Menindas Rakyat

Sabtu, 22 November 2025 - 00:08 WITA

Penyesuaian ASN Jadi Sorotan dalam Paripurna RAPBD 2026

Selasa, 18 November 2025 - 13:27 WITA

Hadiah untuk Masa Kecil dari Dikbud untuk PAUD di Boalemo

Berita Terbaru