Trilogis.id_(GORONTALO) – Pernyataan Badan Kehormatan (BK) DPRD Provinsi Gorontalo terkait klarifikasi Wahyudin Moridu menuai tanda tanya publik. Anggota DPRD Fraksi PDI Perjuangan itu mengaku dalam kondisi mabuk dan tidak sadar ketika melontarkan ucapan kontroversial soal “merampok” dan “memiskinkan negara” yang terekam dalam video viral.
Namun, keterangan itu justru dianggap kontradiktif. Sebab, dalam video yang beredar, Wahyudin terlihat masih mampu mengendarai mobil dan tiba di bandara dengan selamat.
Publik mempertanyakan: jika benar dalam kondisi mabuk berat hingga tidak sadar, bagaimana mungkin ia bisa menyetir tanpa insiden?
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Ini yang janggal. Di satu sisi beliau mengaku tidak sadar, di sisi lain bisa membawa kendaraan sampai tujuan. Artinya, pengakuan itu patut dipertanyakan,” ungkap salah seorang aktivis antikorupsi Gorontalo, Sabtu (20/09).
Kritik juga datang dari kalangan warganet. Mereka menilai alasan “mabuk” yang dijadikan tameng justru memperburuk citra lembaga dewan.
“Mana mungkin orang tidak sadar bisa nyetir mobil sendiri” tulis Rahmat Ladjuma Bang Ato, dalam komentarnya sambil memebri emot tertawa
Sebelumnya, BK DPRD Gorontalo melalui anggotanya, Umar Karim, mengungkapkan hasil pemeriksaan awal. Wahyudin disebut telah menenggak minuman keras sejak malam hingga saat berada di bandara.
Ia baru menyadari ucapannya setelah video viral, bahkan dalam rekaman terlihat botol minuman.
Meski Wahyudin sudah menyampaikan permintaan maaf melalui akun media sosialnya, publik menilai persoalan ini tidak bisa hanya selesai dengan kata “maaf”. Sebab, sebagai aleg, tindak-tanduknya mencerminkan wajah lembaga DPRD.
Kini, masyarakat menunggu keberanian Badan Kehormatan DPRD mengambil langkah nyata. Apakah cukup berhenti pada klarifikasi dan permintaan maaf, ataukah berani memberi sanksi yang sepadan dengan pelanggaran etik dan moral yang dilakukan Wahyudin Moridu.


















