Trilogis.id (Tajuk) – Kadang, seseorang merasa ragu apakah dirinya berhak menerima zakat atau tidak. Untuk mengetahuinya, kita bisa melakukan evaluasi sederhana terhadap kondisi ekonomi kita sendiri.
1. Lihat Kebutuhan Pokok
Coba periksa apakah kebutuhan dasar seperti makanan, tempat tinggal, pakaian, dan kesehatan sudah terpenuhi dengan layak. Jika sering mengalami kesulitan untuk memenuhi kebutuhan ini, bisa jadi termasuk dalam kategori miskin atau fakir.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
2. Bandingkan dengan Standar Kelayakan Hidup
Setiap daerah memiliki standar hidup yang berbeda. Jika penghasilan atau sumber daya yang dimiliki selalu kurang untuk mencapai standar minimal hidup layak di tempat tinggalmu, ini bisa menjadi tanda bahwa kamu berhak menerima zakat.
3. Periksa Sumber Pendapatan
Jika memiliki pekerjaan atau usaha, tetapi hasilnya tidak cukup untuk mencukupi kebutuhan pokok, itu bisa menjadi indikator bahwa kamu termasuk dalam golongan yang berhak menerima zakat.
4. Hitung Aset Yang dimiliki
Dalam menentukan apakah seseorang berhak menerima zakat, tidak hanya penghasilan yang menjadi pertimbangan, tetapi juga aset yang dimiliki. Namun, tidak semua aset membuat seseorang otomatis keluar dari kategori fakir atau miskin. Berikut cara menilainya:
1. Aset sebagai Kebutuhan Pokok
Jika aset yang dimiliki merupakan bagian dari kebutuhan dasar dan bukan termasuk kemewahan, maka tidak diperhitungkan dalam menentukan kelayakan menerima zakat. Contohnya:
Rumah yang ditempati: Jika seseorang memiliki rumah sendiri, tetapi rumah tersebut tidak termasuk kategori mewah dan hanya digunakan untuk tempat tinggal, maka tidak dianggap sebagai aset yang bisa menggugurkan hak menerima zakat.
Kendaraan pribadi: Jika kendaraan tersebut digunakan untuk bekerja atau keperluan sehari-hari dan bukan kendaraan mewah, maka masih termasuk kebutuhan dasar dan tidak menjadi alasan seseorang tidak berhak menerima zakat.
2. Aset yang Dapat Menghasilkan
Jika seseorang memiliki aset yang dapat memberikan penghasilan, maka hal ini perlu diperhitungkan:
Jika hasil dari aset tersebut cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup, maka orang tersebut tidak termasuk fakir atau miskin dan tidak berhak menerima zakat.
Jika aset tersebut ada, tetapi hasilnya masih tidak mencukupi kebutuhan pokok, maka masih bisa termasuk dalam kategori penerima zakat.
Contoh: Seseorang memiliki tanah kosong yang belum bisa dimanfaatkan atau toko kecil dengan pemasukan yang tidak mencukupi kebutuhan dasar. Dalam kasus ini, meskipun memiliki aset, orang tersebut masih bisa berhak menerima zakat jika pendapatannya tetap berada di bawah batas kecukupan hidup.
3. Hutang dan Kewajiban Finansial
Selain penghasilan dan aset, hutang atau kewajiban finansial juga berperan dalam menentukan kelayakan menerima zakat:
Jika seseorang memiliki aset, tetapi juga memiliki hutang yang besar hingga membuatnya kesulitan memenuhi kebutuhan pokok, maka ia masih bisa masuk dalam kategori penerima zakat.
Jika setelah dikurangi hutang, seseorang masih memiliki kekayaan yang cukup untuk hidup tanpa bantuan, maka ia tidak berhak menerima zakat.
Seseorang bisa dikatakan berhak menerima zakat jika:
✅ Penghasilannya tidak mencukupi kebutuhan dasar.
✅ Aset yang dimiliki hanya berupa kebutuhan pokok (rumah, kendaraan, dll.) dan bukan kemewahan.
✅ Memiliki aset yang menghasilkan, tetapi hasilnya belum mencukupi kebutuhan hidup.
✅ Memiliki hutang atau kewajiban yang membuatnya tetap dalam kesulitan ekonomi meskipun memiliki aset.
Namun, jika seseorang memiliki aset atau penghasilan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup tanpa kesulitan berarti, maka ia tidak berhak menerima zakat. Jika masih ragu, sebaiknya berkonsultasi dengan ahli zakat atau lembaga zakat setempat untuk mendapatkan kepastian.
5. Tanya Diri Sendiri: Bertahan atau Bertumpu?
Jika hidup hanya bisa bertahan dengan bantuan orang lain atau sering berutang untuk memenuhi kebutuhan dasar, itu juga bisa menjadi tanda bahwa kamu berhak menerima zakat.
6. Konsultasi dengan Lembaga Zakat atau Ulama
Jika masih ragu, konsultasikan dengan lembaga zakat atau ulama setempat. Mereka bisa membantu menilai apakah kamu memenuhi syarat sebagai penerima zakat.
Pada akhirnya, zakat bertujuan untuk membantu mereka yang benar-benar membutuhkan, bukan untuk orang yang masih mampu mencukupi kebutuhannya. Jadi, jika setelah mengevaluasi diri ternyata kebutuhan dasar sudah terpenuhi tanpa kesulitan berarti, maka mungkin sudah waktunya untuk menjadi pemberi zakat, bukan penerimanya.
Oleh: Mansur Martam | Penyuluh Agama Kabupaten Boalemo.



















