Bab 9
Sore itu, sebuah pesan suara berdurasi 2 menit 47 detik tiba di grup kecil para aktivis Tanowa. Pengirimnya anonim, suaranya sengaja diredam noise. Tapi kata-katanya jelas:
“uang perjalanan dinas dibagi, semua tahu. Tapi yang paling gede itu dana aspirasi. Sudah diatur siapa dapat berapa. Ada jatah ke lembaga tertentu, supaya aman…”
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Tak lama, rekaman itu menyebar seperti tumpahan minyak di permukaan air.
Pengakuan Tanpa Wajah
Rekaman itu tak menyebut nama, tak menyebut tahun. Tapi cukup rinci dalam skema:
Aleg A bertugas menarik nota dinas
Aleg B mengurus hotel fiktif
Aleg C menyetor sebagian ke “jalur belakang”
Lebih mencengangkan: ada bagian yang menyebut bahwa sejumlah uang aspirasi—yang sejatinya untuk rakyat—disisihkan untuk “jasa keamanan”.
“Jangan tulis nama, tapi kamu pasti tahu siapa yang biasa jadi perantara”.
Tak perlu disebut siapa. Warga Tanowa sudah mulai menebak sendiri.
Sesama Terduga: Tak Lagi Saling Percaya
Di ruang tertutup DPRD, ketegangan mulai tumbuh. Tak ada lagi canda saat paripurna. Grup WhatsApp internal mendadak sunyi. Beberapa saling unfollow, bahkan memblokir satu sama lain.
“Kamu yang rekam suara itu?”
“Siapa yang sebar dokumen PDF kemarin?”
“Kita sudah sepakat diam semua, kenapa kamu buka mulut?”
Rasa bersalah kalah oleh rasa takut. Tak ada yang yakin siapa akan ditumbalkan berikutnya.
Pertemuan-pertemuan Sunyi
Di luar jam kerja, mulai terjadi pertemuan gelap. Di kafe, di rumah keluarga, di tempat ibadah. Bukan lagi untuk menyusun program rakyat, melainkan untuk membagi dosa secara rapi.
“Kalau ditanya soal 2020, bilang saja belum ingat”.
“Pokoknya semua yang tandatangan, sama-sama tanggung jawab”.
“Kalau ada yang ditahan, jangan sebut yang lain. Teken dulu suratnya”.
Politik diam mulai gagal.
Karena beberapa orang mulai mengkhianati kesepakatan semula.
Ketika Suara Bocor Membuka Segalanya
Aktivis media lokal mulai merapatkan barisan. Mereka membandingkan isi rekaman dengan dokumen perjalanan, menyusun kronologi baru. Salah satu jurnalis menulis:
“Rekaman ini tak sekadar pengakuan: ini adalah bukti bahwa korupsi bukan kecelakaan, tapi persekongkolan.”
Di kantor kejaksaan, penyidik juga sudah mendengarnya. Tapi belum ada pernyataan resmi. Mereka bermain waktu—lagi.
Siapa Menikung Siapa
Dari luar, publik melihat DPRD dan Sekretariat sebagai satu tubuh. Tapi di dalam, mereka mulai saling curiga.
Sekwan menuding para aleg yang memaksa penandatanganan
Aleg menyalahkan staf sekretariat yang menyusun agenda fiktif
Pimpinan menyebut semuanya atas nama “kolektif kolegial”
Staf hanya berkata: “Kami bawahan, mana berani menolak…”
Seolah mereka sepakat dalam kesalahan,
tapi tidak sepakat siapa yang harus menanggungnya.
Rekaman itu menjadi titik genting. Semua yang sebelumnya berdiri dalam satu lingkaran mulai mundur ke arah yang berbeda. Seperti kapal bocor yang penumpangnya saling dorong agar selamat sendiri.
Dan Nasa menuliskannya dengan kalimat pendek:
“Dalam ruang gelap, kawan dan lawan hanya dibedakan oleh bisikannya.”
Bersambung…
Penulis : Nanang Syawal



















