Bab 12
Jaksa utama di Kejari Tanowa duduk di ruangannya yang dingin. Di meja ada dua bundel:
satu bertuliskan PERDIS 2022, satunya lagi PERDIS 2020–2021 (Pemeriksaan Awal).
Lembar demi lembar hasil audit, keterangan saksi, rekaman percakapan, hingga hasil penggeledahan di hotel-hotel di luar kota — semuanya mulai membentuk pola.
Tapi langkah tidak bisa sembarangan.
Satu nama salah disebut, satu momen salah langkah — kasus bisa runtuh, atau malah dirinya diseret arus politik.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Kita mulai dari yang sudah jelas kerugian negaranya. Yang lain, susul,” ujar sang jaksa kepada tim.
Mereka paham:
PERDIS 2022 sudah ada hitungan pasti kerugian negara dari BPK.
Sementara 2020–2021, sebagian jejaknya mulai hilang, tapi tak semuanya padam.
Tangan yang Tak Terlihat
Sementara itu, telepon berdering.
Seseorang dari luar kota. Bukan atasannya, bukan pula penyidik pusat. Tapi suara itu berat, tenang, penuh wibawa gelap.
“Kami mendukung penindakan kasus ini. Tapi pilih waktu yang tepat.
Jangan semua ditabrak bersamaan.
Ada nama-nama yang tidak bisa disentuh sekarang. Fokus dulu”.
Sang jaksa tidak menjawab. Ia hanya menutup panggilan dan kembali membuka dokumen.
Bukan karena takut. Tapi karena tahu:
yang ingin menyetir kasus ini bukan hanya politik lokal, tapi jaringan lebih besar.
Tekanan yang Meningkat
Di luar, tekanan meningkat. Mahasiswa terus bergerak.
Beberapa organisasi masyarakat sipil membuat aliansi dan mengirim surat resmi ke Kejagung.
Media mulai menyorot:
“Ada apa dengan DPRD Tanowa?”
“Pola Perjalanan Dinas Fiktif Mirip di Daerah Lain?”
“Mengapa Jaksa Lamban?”
Jaksa akhirnya menggelar konferensi pers.
“Kami sedang menyusun konstruksi hukum yang kuat.
Kasus ini tidak hanya soal administrasi, tapi soal niat jahat yang terstruktur.
Semua yang terlibat akan kami panggil, tanpa kecuali.”
Surat Panggilan dan Getar di Parlemen
Seminggu kemudian, surat panggilan pertama diterbitkan.
Tiga anggota DPRD, satu staf sekretariat, dan seorang sopir yang dulu mengantar perjalanan dinas.
Getarannya terasa di koridor lembaga.
Beberapa mulai membereskan meja. Beberapa mencari cara melobi. Beberapa… mulai membocorkan info ke wartawan.
“Saya hanya disuruh tanda tangan.”
“Bukti hotel tidak ada karena memang kami tidak ke sana.”
“Uangnya dibagi per orang, bukan dipakai kegiatan.”
Pengakuan demi pengakuan mulai tumpah — bukan karena ingin jujur,
tapi karena takut ditinggal sendiri saat badai tiba.
Nasa Mencium Arah Baru
Nasa, di tengah hiruk pikuk itu, kembali menyusun catatan.
“Ada tangan yang ingin membatasi kasus ini hanya ke level bawah.
Tapi jaksa punya semua nama.
Jika mereka berani, ini bisa mengubah arah pemerintahan Tanowa selamanya.”
Ia tak lagi hanya menulis untuk publik. Tapi juga menyusun laporan kronologis ke lembaga antikorupsi nasional.
Dengan bukti yang ia miliki — ia tahu, beberapa nama besar tak bisa selamanya bersembunyi di balik jubah jabatan.
Di kejaksaan, langkah telah dimulai.
Di parlemen, gemetar mulai terasa.
Dan di luar sistem, suara-suara kebenaran mulai menulis jalannya sendiri.
Tapi bayangan gelap belum pergi.
Ada kekuatan yang ingin mengatur siapa yang jatuh duluan… dan siapa yang diselamatkan sampai akhir.
Bersambung…
Penulis : Nanang Syawal



















