Bab 15
Hujan sore di Tanowa turun tanpa irama. Langit mendung sejak siang, tapi hujan baru memutuskan jatuh ketika lampu-lampu jalan mulai menyala.
Air mengalir di selokan kecil, membawa daun-daun kering dan sedikit lumpur ke arah laut. Kota ini selalu punya wajah ganda ketika hujan, teduh di luar, tetapi di dalam, ada gejolak yang tak semua mata bisa lihat.
Nasa duduk sendirian di ruang tamunya yang sempit. Di meja, sebuah amplop berwarna cokelat masih tergeletak, isinya lima puluh juta rupiah. Bukan angka yang kecil bagi siapa pun di kota ini, tapi juga bukan jumlah yang cukup untuk menukar seluruh hidupnya.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Ia menatapnya seperti menatap bangkai hewan di tengah jalan, tak ingin mendekat, tapi sulit mengalihkan pandangan.
Jam dinding berdetak lambat. Ponsel di sudut meja mati sejak sore.
Ia tahu, dalam permainan ini, ponsel yang mati bukan sekadar alat yang tak berfungsi, itu juga pernyataan, “Aku tidak ingin dihubungi. Aku tidak ingin diintai.”
Tapi pernyataan seperti itu justru membuat orang semakin ingin menghubunginya, semakin ingin mengintainya.
Pintu rumah diketuk tiga kali. Ketukan itu pelan, tapi punya ritme orang yang terbiasa mengirim pesan lewat pintu, sebuah kode tak tertulis.
Nasa membuka. Seorang pria bertubuh kurus masuk tanpa menunggu dipersilakan. Jas hujannya masih meneteskan air di lantai.
“Kalau kau pikir ini sudah selesai, kau keliru,” katanya sambil menutup pintu.
Suara hujan di luar meredam percakapan mereka, seperti sengaja menjaga kerahasiaan.
Nasa menarik napas dalam. “Aku tidak bilang ini selesai,” jawabnya, matanya kembali melirik amplop di meja.
Pria itu mendekat, melihat isi amplop tanpa menyentuhnya. “Mereka akan datang lagi. Dan lagi. Bukan hanya uang… mereka akan kirim orang, kirim ancaman, kirim simpati. Semua cara. Sampai kau mulai ragu pada dirimu sendiri”.
Nasa tersenyum tipis. “Mereka pikir aku takut uang. Padahal, yang paling membuatku tidak bisa tidur adalah… kalau aku diam”.
Pria itu hanya mengangguk, lalu duduk. “Ingat, bukan semua yang kelihatan memihakmu benar-benar di pihakmu. Dalam badai seperti ini, kapal sering kali karam bukan karena ombak… tapi karena awaknya sendiri”.
Malam itu, di sebuah rumah besar di pinggiran kota, tujuh mobil berjejer di halaman.
Lampu teras menyala kuning redup, pintu pagar terbuka hanya selebar satu orang bisa lewat.
Di dalam, asap rokok menebal di ruang tamu berkarpet tebal.
Ketua DPRD duduk di kursi rotan, memandangi bara rokoknya yang hampir padam.
Dua kursi di depannya terisi, Ketua Fraksi yang duduk santai, dan seorang anggota senior yang jarang bicara.
Di meja, teh manis mendingin tanpa tersentuh.
“Bocoran ini… membuat semua orang gelisah,” kata Ketua Fraksi membuka percakapan. Suaranya rendah, tapi setiap kata diucapkan jelas.
“Kita tahu, ini bukan hanya soal angka perjalanan dinas. Ini soal siapa yang akan tenggelam lebih dulu.”
Ketua DPRD mengembuskan asap. “Kalau tahu siapa yang membocorkan, sebut saja.”
Ketua Fraksi tersenyum tipis. “Menyebut namanya hanya akan memberinya panggung. Kita tidak butuh panggung baru untuk musuh. Kita butuh waktu… untuk membersihkan jejak.”
Seorang anggota di sudut menimpali, “Kalau begitu, kita patungan. Lima puluh per orang. Selesai.”
Ketua DPRD memandangnya lama. “Kalau ini jalan yang kalian pilih, ingat, uang itu tidak membuatnya diam. Justru akan membuatnya bicara lebih keras.”
Ketua Fraksi memutar sendok di cangkir. “Diam atau bicara… tergantung seberapa jauh dia mau melangkah. Tapi kalau dia melangkah terlalu jauh… kita pastikan dia melangkah sendirian.”
Ucapan itu membuat ruangan sunyi.
Di luar, hujan makin deras, memantulkan cahaya lampu mobil yang baru saja tiba di halaman, sebuah sedan hitam, tanpa plat nomor di depan.
Sementara itu, di lantai dua kantor Kejaksaan Negeri Tanowa, Jaksa Intel berdiri di depan papan besar penuh foto, bagan, dan panah merah yang menghubungkan nama-nama.
Jaksa Pidsus baru saja masuk membawa map cokelat.
“Semua ini sengaja kita biarkan mengalir,” kata Jaksa Pidsus. “Tidak ada klarifikasi. Tidak ada pembelaan. Biar mereka saling curiga, saling menjatuhkan.”
Jaksa Intel mengangguk. “Satu-satunya hal yang lebih mematikan dari bukti adalah ketidakpastian. Dan saat ini, mereka sudah makan racun itu setiap hari”.
Penulis : Nanang Syawal
Editor : Redaksi



















