Menjaga Marwah Birokrasi; Antara Kompetensi Pemimpin dan Bahaya “Penumpang Gelap”

- Jurnalis

Sabtu, 25 April 2026 - 18:28 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Trilogis (Tajuk/Opini) – Birokrasi adalah tulang punggung pelayanan publik. Namun, ketika proses pengisian jabatan strategis seperti Sekretaris Daerah (Sekda) atau kepala badan keuangan mulai terdistorsi oleh kepentingan politik praktis, maka efektivitas pemerintahan berada dalam ancaman serius. Fenomena ini memberikan kita pelajaran penting mengenai dua pilar utama tata kelola yang baik (good governance): Meritokrasi dan Akuntabilitas.

1. Seleksi Terbuka: Integritas di Atas Formalitas

Secara regulasi, pengisian Jabatan Pimpinan Tinggi (JPT) wajib dilakukan secara terbuka dan kompetitif. Namun, edukasi publik perlu menekankan bahwa seleksi terbuka bukan sekadar ritual administratif untuk melegitimasi pilihan yang sudah ditentukan sejak awal (the appointed winner).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Ketika sebuah proses seleksi kehilangan integritasnya, dampak yang dirasakan bukan hanya pada kualitas pejabat yang terpilih, tetapi juga pada demoralisasi ASN. Jika kompetensi dikalahkan oleh kedekatan personal, maka aparatur terbaik akan kehilangan motivasi untuk berprestasi, dan birokrasi hanya akan diisi oleh mereka yang pandai menyenangkan pimpinan, bukan yang pandai melayani rakyat.

Baca Juga :  UKOM BKD-Diklat Boalemo cacat hukum?

2. Rekam Jejak: Mengapa Kegagalan Masa Lalu Harus Menjadi Pertimbangan?

Dalam manajemen sumber daya manusia, track record atau rekam jejak adalah indikator paling valid untuk memprediksi kinerja masa depan. Seorang pemimpin birokrasi yang memiliki catatan kegagalan strategis—misalnya kesalahan dalam mitigasi risiko atau pemborosan anggaran pada jabatan sebelumnya—harus dievaluasi secara ketat.

Publik perlu memahami bahwa jabatan tinggi bukan tempat untuk “belajar dari kesalahan” yang mendasar, melainkan tempat bagi mereka yang sudah teruji mampu mengelola risiko. Memaksakan figur dengan rekam jejak gagal pada posisi sentral administrasi berisiko mengulangi inefisiensi yang merugikan keuangan daerah.

3. Fenomena “Penumpang Gelap” dan Maladministrasi

Salah satu anomali birokrasi yang paling merusak adalah munculnya “penumpang gelap”—yaitu pelantikan pejabat pada posisi strategis tanpa melalui prosedur lelang yang sah. Praktik ini bukan sekadar masalah etika, melainkan pelanggaran hukum administrasi negara yang nyata.

Baca Juga :  Berikut pesan Dr. Sherman Moridu untuk 7 Pejabat Administrator

Setiap jabatan tinggi memiliki persyaratan kompetensi teknis dan manajerial yang spesifik. Melewati prosedur lelang berarti mengabaikan standar kualitas tersebut. Hal ini menciptakan preseden buruk yang merusak tatanan aturan main dan membuka celah bagi terjadinya penyalahgunaan wewenang.

Menuntut Akuntabilitas Pengawas

Situasi di mana aturan main dikesampingkan demi kepentingan sesaat harus menjadi alarm bagi lembaga pengawas pusat. Jabatan strategis adalah “jantung” pemerintahan; jika jantung tersebut dipasang melalui proses yang cacat prosedur dan etika, maka seluruh layanan publik akan ikut terganggu.

Edukasi terpenting bagi kita semua adalah: Birokrasi yang sehat tidak dibangun di atas fondasi nepotisme, melainkan di atas ketaatan mutlak pada aturan dan pembuktian kompetensi. Mari kita kawal agar setiap kursi jabatan diduduki oleh mereka yang benar-benar layak secara kapasitas, bukan mereka yang hanya lihai mencari celah dalam prosedur formal

Penulis : Novrianto Daima| CEO Rans Multimedia

Berita Terkait

Rapor Merah PAHAM: Janji Pembangunan, Utang BPJS, dan Sejumlah Persoalan yang Belum Tuntas
Menyelamatkan Nyawa, Kehilangan Hak: Jeritan Nakes di Balik Penolakan Klaim BPJS
Kisah Inspiratif; Dari Perahu, 7 Pemuda Sukses Patungan beli Sapi Kurban untuk Kaum Duafa
Sekda dan Krisis Plasma Sawit: Diam, Mengawasi, atau Membiarkan?
Isu Maladministrasi Sejumlah Kadis di Boalemo, Kepegawaian, Inspektorat dan Sekda Cuek?
Gelar Tinggi Tak Menjamin Kepatuhan: Ironi di Balik Pelantikan Cacat Hukum
Puskesmas Berlian Gelar Kegiatan Prolanis: Dari Senam Sehat hingga Edukasi Bahaya Merokok

Berita Terkait

Minggu, 14 Juni 2026 - 16:15 WITA

Rapor Merah PAHAM: Janji Pembangunan, Utang BPJS, dan Sejumlah Persoalan yang Belum Tuntas

Kamis, 4 Juni 2026 - 23:02 WITA

Menyelamatkan Nyawa, Kehilangan Hak: Jeritan Nakes di Balik Penolakan Klaim BPJS

Senin, 1 Juni 2026 - 14:49 WITA

Rabu, 27 Mei 2026 - 21:44 WITA

Kisah Inspiratif; Dari Perahu, 7 Pemuda Sukses Patungan beli Sapi Kurban untuk Kaum Duafa

Rabu, 27 Mei 2026 - 21:06 WITA

Sekda dan Krisis Plasma Sawit: Diam, Mengawasi, atau Membiarkan?

Berita Terbaru

Headline

Senin, 1 Jun 2026 - 14:49 WITA