Bab 3
Pukul 02.11 dini hari, sebuah notifikasi masuk ke kotak surat terenkripsi milik NASA. Alamat pengirim tak biasa: ml.secretariat@proton.me.
Subjeknya: “Saya tahu lebih banyak dari yang Anda tulis.”
Isinya singkat, namun cukup membuat jantung Maryanasa berdetak lebih cepat:
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Saya Marya, staf honorer di Sekretariat DPRD Tanowa. Saya tidak tahan lagi melihat semua ini. Saya punya daftar asli perjalanan dinas, termasuk lampiran transfer dan disposisi. Nama-nama itu benar semua. Tapi ada yang lebih parah: beberapa tidak cuma jalan-jalan. Mereka menarik uang ganda lewat program reses. Saya takut. Tapi saya juga marah. Saya siap berbicara, tapi tidak lewat media terbuka. Saya butuh jaminan keselamatan. Kalau Anda serius, balas dengan aman.
Maryanasa—yang menulis sebagai NASA—terdiam. Dunia kecilnya mendadak berguncang pelan. Ia tak menyangka akan ada orang lain, di dalam gedung tempat kebusukan dirancang, yang memilih berpihak padanya. Nama yang digunakan pun membuatnya membeku sejenak. Marya. Nama yang sama dengan dirinya.
Bukan kebetulan, pikirnya. Tapi juga terlalu gila untuk jadi rencana.
Ia menyalakan laptop cadangan, membuka saluran TorBridge (menghindari sensor jaringan), dan membalas:
“Saya tidak akan meminta bukti dulu. Saya percaya karena Anda merasa takut, dan itu cukup jadi bukti awal. Tapi satu hal: hati-hati dengan CCTV ruang pengarsipan. Mereka menyimpan cache offline.”
Tiga hari kemudian, Marya (staf Sekretariat) mengirim lampiran besar dalam bentuk file +7z yang dikunci dengan sandi. Ia mengabarkan bahwa file itu hanya bisa dibuka jika Maryanasa mengirimkan satu baris kalimat dari tulisan terakhirnya, sebagai bentuk verifikasi.
Marya membuka tulisannya lagi. Ia tahu bagian itu: “dan di Tanowa, jalan-jalan fiktif kadang lebih mahal daripada pembangunan sekolah.”
Setelah verifikasi sukses, file terbuka. Di dalamnya:
Daftar 25 nama anggota DPRD Tanowa yang melakukan perjalanan dinas dalam 5 tahun terakhir.
Salinan SPPD yang ditandatangani Sekwan dan Bendahara tanpa kehadiran fisik pejabat.
Tabel rincian honorarium, beberapa mencapai 19 juta rupiah untuk satu perjalanan 3 hari.
Satu folder khusus berisi “surat pengantar ke luar kota” yang dikeluarkan pada saat rapat paripurna berlangsung—artinya, mereka berada di dua tempat dalam satu waktu.
Maryanasa memindai semuanya. Ia menyadari satu hal:
“Ini bukan sekadar kelalaian administratif. Ini rekayasa kolektif.”
Yang lebih mengejutkan, Marya menyisipkan catatan pribadi:
“Saya sempat dengar ada yang akan dimutasi karena terlalu banyak bertanya. Salah satu Kasubag. Namanya disingkirkan pelan-pelan. Saya juga tahu ada perintah membakar dokumen arsip lama. Kalau bisa, selamatkan semuanya sebelum mereka menghapus jejak.”
Malam itu, hujan deras mengguyur Tanowa. Tapi di dalam kamar kecilnya, Marya tidak tidur. Ia mencetak satu demi satu dokumen, memisahkan yang akan dikirim ke lembaga resmi, dan yang akan disimpan sebagai senjata cadangan.
Gema dari dalam Sekretariat telah membuka babak baru.
Bukan lagi tentang siapa mencuri uang negara. Tapi siapa yang akan dihancurkan lebih dulu:
para pengungkap atau para perampok.
Di gedung DPRD Tanowa, Rama Lontara sedang gelisah.
Ia mendapat kabar bahwa seseorang di Sekretariat mungkin membocorkan data.
Ia belum tahu siapa. Tapi ia sudah minta CCTV ditarik mundur ke seminggu terakhir.
Sementara itu, di luar gedung, ada mahasiswa mulai menyebar poster dengan kutipan NASA:
“Bergerak Semua, Harga Diri Habis Dikorupsi.”
Bersambung…

















