Bab 8
Nasa membuka laptopnya pukul 01.45 dini hari. Lampu kamar hanya satu, cukup temaram. Di layar, halaman pertama dokumen itu terbuka:
KERUGIAN NEGARA MILIARAN RUPIAH:
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Siapa yang Bertanggung Jawab?
Sebuah catatan publik untuk rakyat Tanowa
Ia mengetik cepat. Tak lagi menunggu persetujuan siapa pun. Malam itu, ia memilih jadi warga yang melawan sunyi dengan data.
PDF yang Meledak
Keesokan harinya, PDF itu beredar di WhatsApp, messenger Facebook, tiktok, dan kanal-kanal warga. Isinya padat tapi jernih:
Nama-nama aleg yang menandatangani SPPD fiktif
Jumlah hari dan nominal per perjalanan
Bukti perbandingan dengan agenda resmi dewan
Tabel inkonsistensi tanda tangan
Narasi kronologis dari tahun 2020 hingga 2022
File itu hanya berukuran 2,3 MB—cukup kecil untuk dikirim ke mana saja, cukup besar untuk mengguncang semuanya.
Getar di Meja Kekuasaan
Dua jam setelah PDF itu viral, sebuah pesan masuk ke ponsel Nasa dari nomor tak dikenal:
“Bisa kita ngobrol baik-baik? Teman saya ingin bertemu. Bukan pejabat. Hanya perantara.”
Tak lama, tawaran kedua datang:
“Maukah Anda mempertimbangkan untuk menghapus bagian tertentu? Kami bisa bantu biaya kebutuhan Anda.”
Nasa hanya tertawa kecil.
Ia menuliskannya ke buku catatan dengan tinta merah:
“Ketika data tak bisa dibantah, mereka mulai tawar-menawar.”
—
Semua Ingin Menyelamatkan Diri
Beberapa anggota DPRD yang dulu garang di podium kini panik di balik layar. Mereka tidak lagi bicara soal rakyat atau demokrasi, tapi tentang “siapa yang akan dikorbankan”.
Ada yang tiba-tiba rajin sowan ke kantor Kejari, mengantar dokumen pembelaan tanpa diminta.
Ada pula yang menghubungi tokoh agama, berharap fatwa moral bisa menjadi tameng politik.
Yang paling mencolok: mereka mulai menjilat satu sama lain—dan juga Kejaksaan.
”Saya hanya ikut tanda tangan karena takut dicopot dari alat kelengkapan dewan.”
“Semua ini ide Ketua. Kami hanya menjalankan.”
“Sekretariat yang buat laporan, kami cuma ACC.”
Mereka lupa, bahwa semuanya telah tertulis dalam tinta APBD.
Panggung Itu Sekarang Ada di Publik
Bagi Nasa, yang sejak awal hanya mengamati, ini adalah titik balik. Bukan di ruang sidang, bukan di kantor kejaksaan, melainkan di layar ponsel rakyat Tanowa.
Di grup-grup alumni, majelis taklim, komunitas petani, hingga Abang bentor—semua sedang memperbincangkan dokumen itu.
“Ternyata mereka jalan-jalan ke Bali pakai uang rakyat ya?”
“2021 ke Jakarta tiga kali dalam sebulan? Emang ada apa?”
“Kenapa yang diperiksa cuma yang sekarang masih duduk?”
Wajah-wajah yang dulunya sering muncul di baliho kini tampil dalam format Excel dan PDF, bahkan sebagian enjadi meme.
Mereka yang Membalik Meja
Di tengah kekacauan itu, dua nama aleg yang masih aktif justru berbalik arah. Mereka ikut menyebarkan dokumen Nasa, membuka grup diskusi internal, dan menyuarakan audit menyeluruh untuk seluruh tahun anggaran.
“Lebih baik bersih sekarang daripada jadi bahan bakar nanti,” kata salah satu dari mereka kepada media.
Tapi publik tak mudah percaya.
Panggung telah berpindah, dan peran protagonis bukan lagi milik politisi.
Malam itu, Nasa kembali duduk di meja kayu lapuknya. Ponsel terus berdering. Ada yang memuji, ada yang marah, ada pula yang mengancam. Tapi matanya tenang.
Ia menulis satu kalimat penutup untuk edisi revisi dokumen yang akan ia unggah ulang:
“Ketika hukum tertidur, data akan membangunkannya.”
Bersambung…
Penulis : Nanang Syawal



















