Oleh: Reyn Daima
Trilogis.id_(Cerpen) – Di sebuah negeri yang subur, tersembunyi di antara perbukitan hijau dan birunya laut, berdirilah Kota Buah Lemon. Kota ini dipimpin oleh seorang Raja dan Wakil Rajanya yang dulunya adalah bintang gemilang di Dewan Rakyat Kota Buah Lemon. Namanya Pangeran Sari Lemon, karismanya memikat hati rakyat, janjinya semanis buah lemon yang ranum.
Namun, badai menerpa ketika Pangeran Sari Lemon tersandung dugaan laku curang dalam pengelolaan dana perjalanan dinas saat ia menjadi nahkoda di Dewan Rakyat.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Seketika, Pangeran Sari Lemon yang dulu gagah bagai kusir kereta kencana, kini diibaratkan menjadi “kereta dua” – gerbong di belakang yang penuh debu dan tak lagi menarik perhatian utama.
Namun, justru “kereta dua” inilah yang kini menjadi ajang perebutan. Bukan karena kemuliaan Pangeran Sari Lemon, melainkan karena para penjilat dan pemburu rente mencium aroma kekuasaan yang masih tersisa.
Para pendukung setia, yang dulu selalu mengelu-elukan Pangeran Sari Lemon bagai buah lemon yang paling manis, mulai menghitung untung dan rugi. Beberapa, yang dulu selalu menempel di “kereta dua,” kini diam-diam melirik “kereta satu” yang baru, mencari perlindungan jika “kereta dua” ini tergelincir ke jurang kehinaan.
Mereka berbisik di balik topeng senyum, menyusun alasan jika kelak harus meninggalkan sang pangeran.
Namun, ada pula sekelompok kecil yang tetap mendekat, bagai lalat mengerubungi buah yang ranum. Mereka melihat Pangeran Sari Lemon sebagai sumber daya yang belum habis.
Mungkin masih ada sisa pengaruh untuk mendapatkan proyek pembangunan taman-taman kota atau izin membuka kedai-kedai lemon yang menguntungkan. Mereka berebut tempat di “kereta dua,” menghisap sari kekuasaan terakhir sebelum benar-benar layu.
Sementara itu, para pesaing Pangeran Sari Lemon, bagai musang yang mengincar ayam sakit, melihat “kereta dua” yang goyah ini sebagai kesempatan emas.
Mereka tampil di hadapan rakyat dengan retorika membela keadilan, berjanji akan membersihkan Kota Buah Lemon dari segala noda korupsi. Namun, di balik kata-kata manis itu, tersembunyi hasrat untuk menduduki singgasana kekuasaan.
Pangeran Sari Lemon sendiri, yang dulu selalu riang bagai pohon lemon yang berbuah lebat, kini lebih sering termenung di istana buahnya. Ia merasakan betapa cepatnya roda nasib berputar.
Ia melihat bagaimana para penjilat kini menjaga jarak, dan para rival semakin berani menantang. “Kereta dua” yang dulunya terasa megah dan penuh sanjungan, kini terasa sunyi dan penuh pengkhianatan.
Kisah Pangeran Sari Lemon dan “kereta dua” yang diperebutkan menjadi cermin buram bagi Kota Buah Lemon. Di tengah intrik kekuasaan, sulit dibedakan mana yang benar-benar menjunjung tinggi keadilan, dan mana yang hanya mencari keuntungan pribadi di balik topeng kepedulian.
Rakyat Kota Buah Lemon hanya bisa berharap, semoga keadilan akan tumbuh subur bagai pohon lemon yang sehat, dan “kereta dua” yang penuh noda ini tidak lagi membawa kesengsaraan bagi masa depan kota mereka.
Penulis : Reyn Daima



















