Bab 4
Malam itu, Maryanasa kembali mengunci pintu kamarnya. Dua tumpukan dokumen—satu fisik, satu digital—ada di hadapannya. Ia tak lagi hanya seorang penulis, bukan pula sekadar penggerak opini. Perlahan, ia menjadi penelusur jejak yang tak pernah ditapaki siapa pun sebelumnya.
Ia membuka satu folder berlabel BIMTEK DPRD 2022. Di dalamnya ada surat tugas, daftar peserta, rincian biaya akomodasi, dan tiket pesawat yang diklaim sudah dibayarkan penuh oleh sekretariat DPRD Tanowa. Tempat kegiatan tertulis: Hotel Green Victoria, Makassar.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Namun, Marya punya firasat. Ia menghubungi kenalannya, seorang aktivis di Makassar yang pernah menjadi staf hotel.
“Green Victoria?”
“Iya.”
“Tanggal 11–14 Oktober 2022, ada rombongan DPRD Tanowa?”
“Tunggu… aku cek. Enggak ada. Yang ada waktu itu rombongan mahasiswa KKN dari kampus teknik.”
“Bukan DPRD?”
“Nggak. Dan mereka enggak pernah reservasi atas nama itu sepanjang tahun.”
Itu satu. Marya melanjutkan dengan mengecek nomor tiket pesawat dalam dokumen laporan perjalanan dinas.
Ia masuk ke situs pelacakan manifest Garuda, Lion dan Batik Air. Dua nomor tiket yang seharusnya berangkat tanggal 10 Oktober, tak muncul dalam sistem. Ia coba hubungi customer service.
“Maaf Bu, nomor ini tidak terdaftar sebagai penumpang. Barangkali hanya dummy booking.”
“Artinya tiket tidak pernah dikeluarkan?”
“Benar. Ini semacam nomor simulasi, biasanya digunakan biro sebelum issued.”
Fakta berikutnya membuat tengkuknya merinding.
Di daftar peserta BIMTEK, tertulis nama dua orang anggota DPRD:
Yusuf Lamua, Komisi III
Maksum Bandu, Komisi I
Namun setelah dicek ulang, Marya menemukan informasi di daftar pegawai:
Yusuf Lamua telah pensiun sejak Agustus 2021.
Maksum Bandu meninggal dunia Januari 2022.
Dan ini… BIMTEK dilaporkan berlangsung Oktober 2022.
“Jadi mereka menginap dan belajar… dari dalam kubur?”
gumam Marya, setengah kaget, setengah tertawa getir.
“Ini bukan hanya perjalanan dinas fiktif. Ini pemanggilan arwah yang dibiayai APBD.”
Marya merangkum semuanya dalam tabel investigasi:
Dari 15 nama, 11 tidak valid, dan sisanya tanpa bukti penerbangan maupun hotel.
Malam itu, suara klakson terdengar di luar rumahnya. Ia menengok dari balik jendela.
Sebuah mobil Avanza hitam berhenti sebentar, lalu pergi. Nomor platnya tak dikenali.
Hatinya terhimpit ketakutan.
Tapi ia tahu, kebenaran yang disimpan terlalu lama akan membusuk seperti bangkai.
Dan bau busuk itu kini sudah mulai tercium ke mana-mana.
Sementara itu, di ruang rapat terbatas DPRD Tanowa,
Rama Lontara melempar map ke meja.
“Siapa yang masukkan nama si almarhum ke dalam daftar?”
“Mungkin bendahara lama, Pak.”
“Bendahara atau bocorannya?”
“Laporan masuk ke Ombudsman, katanya ada nama yang sudah wafat.”
“Hapus semua file. Mulai malam ini. Kita bersihkan jejak.”
Tapi jalan itu sudah tak bisa ditutup lagi.
Karena data-data yang tak pernah diverifikasi sebelumnya kini telah dibuka.
Dan itu adalah jalan yang tak pernah ditempuh siapa pun—kecuali mereka yang siap dimusuhi oleh kekuasaan.
Bersambung…



















