Bab 11
Setelah mengguncang Kejari Tanowa, barisan mahasiswa bergerak menuju gedung DPRD Tanowa.
Dengan megafon, spanduk, dan semangat menyala, mereka menggelar aksi di halaman parlemen daerah yang megah tapi kini dipenuhi bisik-bisik aib.
Ketua DPRD akhirnya keluar. Dengan jas kebesaran dan wajah ditahan tegang, ia berdiri di podium darurat di depan gerbang.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Perjalanan dinas fiktif itu hanya tuduhan.
Kami, sebagai lembaga, merasa telah melaksanakan seluruh kegiatan.
Kalau kejaksaan menganggap fiktif, itu versi mereka.
Versi kami: kami bekerja.”
Pernyataan itu terekam dan tersebar ke mana-mana.
Seketika, gelombang kekecewaan dan amarah mengalir — bukan hanya dari publik, tapi dari dalam gedung itu sendiri.
Keretakan di Dalam
Beberapa anggota legislatif mulai angkat bicara. Tak setuju.
Dalam rapat terbatas keesokan harinya, suasana tegang.
“Pernyataan Ketua seolah-olah kita menantang penegak hukum”.
“Kalau benar kita tidak salah, buktikan dengan tenang, bukan konfrontasi”.
“Kita jangan berlagak seperti tak pernah tahu cara ini dimainkan”,
Dua aleg bahkan diam-diam mendatangi jaksa penyidik. Mereka membisikkan satu hal:
“Kami ingin kerja sama. Jangan samakan kami dengan pimpinan.
Yang bermain paling besar, bukan kami”.
Operasi Cipta Kondisi
Di ruangan lain, Ketua dan dua loyalisnya sedang menyusun langkah. Mereka paham: tekanan publik dan hukum tidak lagi bisa ditepis dengan pernyataan normatif.
“Kalau kita terus disudutkan, kita akan jatuh sendirian.”
“Sudah saatnya buat umpan balik.”
“Kita lempar ke eksekutif. Bikin narasi: bukan hanya legislatif yang korup.”
Isu baru mulai disusun.
Bisik-bisik tentang anggaran proyek videotron yang janggal.
Kabar miring soal pengadaan pangan rumah tangga bupati yang diduga menggelembungkan harga.
“Kalau ada yang ikut terbakar, biarlah. Asal jangan kita saja yang hangus.”
Arah Baru Konflik
Target mereka: menciptakan narasi seolah DPRD sedang dimusnahkan karena bersuara keras soal proyek eksekutif.
Salah satu staf fraksi menyusun draf untuk siaran pers:
“Kami menduga, tekanan ini muncul karena DPRD Tanowa sedang mengawasi proyek bermasalah di Pemda. Kami akan buka semuanya.”
Tapi saat draft itu dibaca ulang oleh seorang aleg yang masih punya nurani, ia hanya berkata pelan:
“Ini bukan membela diri. Ini menyesatkan orang lain untuk menutupi diri sendiri”.
Nasa Menulis Lagi
Di sebuah ruang sepi, Nasa menulis laporan barunya:
“Dari Kursi DPRD ke Meja Jaksa: Siapa Saling Jaga, Siapa Saling Jegal?”
Ia tahu arah pertempuran mulai bergeser.
Bukan lagi antara rakyat dan pejabat. Tapi antara pejabat dan sesamanya.
Dan saat itu terjadi, semua saling buka kartu.
Yang menolak jujur, akhirnya terpaksa menyusun tipu daya.
Yang diam, pelan-pelan menjauh dari pusaran.
Yang melawan, kini dikepung dari dua arah: publik dan sesama.
Dan narasi baru sedang disiapkan:
kalau mereka harus jatuh, lebih baik jatuh bersama yang lain.
Penulis : Nanang Syawal



















