Bab 18
Di sebuah ruangan yang remang, hanya diterangi cahaya dari lampu meja, tiga sosok duduk melingkar. Wajah mereka tersembunyi di balik bayangan, tak pernah menyebut nama, hanya kode dan sindiran yang hanya mereka pahami. Tawa kecil sesekali pecah, menandakan kepuasan atas rencana yang mereka susun.
“Pertama, buat eksekutif sibuk dengan isu-isu lama. Biarkan media mengorek, mengkritik, bahkan menyoroti kontradiksi program. Badai di luar sana akan menutupi gerakan kita,” suara yang satu terdengar rendah, namun penuh penekanan.
“Bagus,” balas yang lain dengan senyum tipis. “Saat mereka sibuk, kita mainkan lobi. Kejaksaan lokal, bahkan ke tingkat yang lebih tinggi, semua harus menerima sinyal kita. Pastikan tidak ada yang lepas dari jaringan.”
“Dan jangan lupakan pencitraan,” kata yang ketiga, menatap bayangan di dinding. “Satu gerakan halus bisa menenangkan publik, tapi tetap membuka ruang untuk langkah-langkah lain. Publik hanya melihat hasil akhir, bukan strategi kita yang sesungguhnya.”
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Ketiganya saling bertukar pandang, lalu kembali menunduk ke catatan di atas meja. Mereka membiarkan dunia luar tetap gaduh, sementara setiap langkah mereka telah diperhitungkan dengan cermat.
Sementara itu, di gedung pemerintah, Bupati berhadapan dengan badai.
Telepon dari beberapa wartawan terus berdering, menanyakan kontrak kerja sama media, program yang dianggap kontradiktif, dan isu lama yang sengaja digali kembali. Tangannya mengetuk meja dengan marah. Bukan sekadar pertanyaan yang membuatnya gusar, melainkan pola yang jelas terstruktur, sengaja diarahkan untuk mengganggu.
Di rumahnya yang sederhana, Nasa menatap layar tablet berisi analisisnya. Pola ini, di matanya, bukanlah kebetulan. “Ini bukan sekadar wartawan mencari berita,” gumamnya. “Ini adalah konspirasi: pengalihan isu ke eksekutif, lobi terselubung ke penegak hukum, dan pencitraan halus untuk menutupi langkah-langkah mereka.”
Nasa membuat diagram hubungan: media, oknum pejabat di DPRD, dan jaringan eksekutif yang kini terganggu. Simbiosis mutualisme antara pihak-pihak ini membuat situasi semakin kompleks dan sulit ditembus.
Tiba-tiba, ingatannya melayang enam bulan ke belakang, ke ruang sidang Tipikor yang mencekam. Hakim menatap JPU dengan tajam.
“Saudara JPU, saksi yang kalian hadirkan sudah belasan tahun berada di posisi strategis. Seharusnya, kalian bisa mempertimbangkan untuk menghadirkannya sebagai terdakwa.”
JPU menelan ludah, berusaha menenangkan diri. “Yang Mulia, kami… hanya mengikuti prosedur, menekankan peran saksi untuk menjelaskan kronologi.”
Di kursi saksi, pria itu duduk kaku. Tangannya mulai berkeringat dan wajahnya pucat. Jantungnya berdebar kencang.
Hakim mencondongkan tubuhnya ke depan. “Prosedur tidak boleh menutupi fakta. Jika fakta menuntut, tidak ada kompromi. Posisi lama, pengalaman lama, seharusnya menjadi pertimbangan penuh.”
Saksi terdiam, napasnya tercekat. JPU menunduk, kertas-kertas berisi bukti berserakan di meja, seolah ingin menyembunyikan kegelisahan yang terasa di udara. Di luar, hujan deras mengguyur kota, tapi di dalam gedung sidang, badai yang lebih besar sedang terjadi.
Nasa mengamati arsip foto, catatan analitis, dan percakapan samar yang ia dengar. Ia memutar pola: eksekutif akan terganggu, media akan teralihkan, penegak hukum akan menerima sinyal yang salah, sementara konspirasi tiga pihak bergerak diam-diam.
“Setiap langkah mereka sudah kubaca tiga gerakan ke depan,” pikir Nasa. “Penetapan tersangka bukan sekadar pengumuman. Itu akan menjadi akhir permainan mereka sendiri.” Ia menyesap kopi hitamnya, matanya menatap botol air mineral dan sisa rokok di meja.
Sebuah senyum tipis terbentuk di wajahnya. Badai ini, ia tahu, sedang ia kendalikan dari balik bayangan. Dan mereka, para pemain utama, bahkan belum sadar bahwa mereka sedang berdiri di tengahnya.
Penulis : Nanang Syawal
Editor : Redaksi



















